Pakde Karwo: Pendidikan Vokasi Solusi Era Revolusi Industri 4.0

Editor: Koko Triarko

Gubernur Jawa Timur, Dr. Dr. (Hc) Soekarwo, SH., M.Hum., usai mendapatkan penghargaan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Muhammadiyah Malang -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG – Pendidikan bermutu, akan menentukan tingkat daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Termasuk tantangan di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, khususnya di daerah Jawa Timur.

Menyikapi tantangan tersebut, Gubernur Jawa Timur, Dr. Dr. (HC) Soekarwo, SH., M.Hum., menawarkan revitalisasi pendidikan vokasi sebagai solusi di era revolusi industri 4.0.

Disampaikan, di era revolusi industri seperti sekarang ini, dibutuhkan SDM yang mempunyai keahlian dan keterampilan. Hanya saja, miss match antara pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi permasalahan mendasar yang belum bisa terselesaikan.

“Pada kenyataannya, masih kerap terjadi miss match antara materi yang dipelajari di sekolah dengan dunia usaha dan industri. Sehingga dibutuhkan strategi dalam melakukan revitalisasi, untuk penguatan Link and Match di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” ujarnya, saat memberikan pidato ilmiah, usai menerima penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (27/12/2018).

Menurutnya, link and match mengisyaratkan agar para lulusan memiliki wawasan atau sikap kompetitif, di antaranya etika kerja, motivasi capaian, penguasaan dan sikap kompetitif. Karenanya, penyelarasan kurikulum dengan dunia usaha dan industri sangat dibutuhkan, seperti pembentukan komite pemagangan, melakukan uji kompetensi bersama, pelatihan guru produktif dan tenaga ahli di industri yang diperbantukan di SMK.

Menurutnya, peningkatan kualitas guru produktif menjadi sangat penting, mengingat jumlah guru SMK masih didominasi guru normatif dan adaptif.

“Saat ini, hanya 22 persen guru SMK yang berkualifikasi guru produktif. Angka ini tentu masih jauh dari kata ideal  yang seharusnya minimal terdapat 60 persen guru produktif,” sebutnya.

Lihat juga...