Pascagempa, Cagar Budaya Sembalun Belum Terurus

158
Kawasan Desa Wisata Sembalun, Kabupaten Lombok Timur sebelum gempa - Dok CDN

LOMBOK TIMUR – Cagar budaya yang meliputi tujuh rumah adat berusia 600 sampai 700 tahun, di Desa Sembalun Lawang, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang rusak berat akibat gempa pada Juli lalu, hingga kini belum terurus.

Gempa, membuat dua dari tujuh rumah adat beratap jerami atau rumput ilalang, dengan dinding anyaman bambu dan lantai tanah berlapis kotoran sapi itu, rata dengan tanah. Empat rumah adat lainnya rusak pada bagian lantai. “Seperti itu kondisinya. Rencananya pemerintah desa akan melakukan renovasi di 2019 dengan konsep yang sama,” kata Hamidun, Humas Karang Taruna Desa Sembalun Lawang, yang juga pengelola Rumah Adat Bukit Selong di Sembalun, Senin (3/12/2018).

Hamidun mengatakan, setelah gempa, tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung ke kompleks rumah adat peninggalan nenek moyang warga Sembalun itu. “Seperti yang dilihat, kondisinya memprihatinkan. Hanya sapi yang berkeliaran. Kami sudah minta warga untuk tidak membiarkan sapinya masuk ke areal cagar budaya tersebut,” katanya.

Hamidun, selaku pengelola rumah adat, sudah mengajukan proposal ke pemerintah desa, agar dilakukan perbaikan cagar budaya tersebut, menggunakan dana desa. Permohonan bantuan juga sudah diajukan ke Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. “Kami ingin itu segera diperbaiki, karena banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang datang untuk melihat peninggalan bersejarah ini,” tandasnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Timur, Mertawi, mengakui pemerintah daerah belum memberikan perhatian khusus pada Rumah Adat Sembalun pascagempa. “Rumah adat tersebut juga destinasi wisata, pasti ada upaya perbaikan,” katanya.

Menurutnya, pemerintah daerah akan membantu perbaikan rumah adat, yang merupakan peninggalan tujuh keluarga yang memulai kehidupan baru di Sembalun setelah Gunung Samalas (Gunung Rinjani) meletus pada 1257 Masehi silam. “Bangunan berusia ratusan tahun tersebut memiliki filosofi yang tinggi dan erat kaitannya dengan kebudayaan warga Sembalun pada zaman kerajaan yang diwariskan hingga saat ini,” kata Mertawi, yang juga Ketua Lembaga Adat Sembalun Lawang. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...