Pascatsunami, Sektor Usaha Perikanan dan Wisata di Lamsel Lumpuh

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sejumlah usaha di sepanjang pesisir Rajabasa, Bakauheni, Kalianda Lampung Selatan berhenti produksi pascatsunami melanda daerah tersebut. Di antaranya fasilitas pembuatan ikan asin, gudang peralatan, perahu, bagan apung hingga lokasi wisata.

Solong, salah satu pemilik usaha pembuatan ikan asin di Muara Piluk Bakauheni menyebut tidak berpoduksi sejak dua pekan silam akibat cuaca buruk angin kencang dan gelombang pasang. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya bencana alam tsunami Selat Sunda akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

“Banyak nelayan belum berani melaut, sebagian masih trauma karena ada yang selamat namun merasakan keganasan tsunami dan sebagian  ada yang kehilangan perahu dan mengalami kerusakan bagan,” terang Solong, salah satu warga pembuat ikan asin di Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan, Selasa (25/12/2018)

Lumpuhnya sektor usaha pembuatan ikan asin dan teri rebus dampak gelombang tsunami juga dialami warga Minang Rua, Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni. Kampung nelayan yang berhadapan dengan Gunung Anak Krakatau tersebut memang tidak terdampak parah oleh tsunami. Namun sejumlah peralatan melaut  porak poranda.

Supadi, kepala dusun setempat mencatat tsunami berdampak pada sektor usaha perikanan tangkap hingga pariwisata.

Kampung nelayan dengan 63 kepala keluarga, 222 jiwa tersebut mengalami kerusakan rumah dan sejumlah fasilitas wisata. Di antaranya, sebanyak 40 perahu rusak berat hingga ringan,
bagan sebanyak 9 buah rusak, tempat ibadah hingga penginapan. Gudang pelelangan ikan sebanyak 3 unit di wilayah tersebut bahkan hancur bersama 25 unit gazebo pantai serta fasilitas wisata lainnya.

“Nelayan jelas tidak bisa usaha karena peralatan perahu, bagan apung hancur terseret ke daratan sebagian hingga seratus meter ke daratan jadi lumpuh total aktivitas melaut,” terang Supadi.

Lihat juga...