Pedagang Pasar Alok dan GMNI Persoalkan Pasar Pagi Terbatas

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Puluhan aktivis Mahasiswa GMNI cabang Sikka, bersama para pedagang Pasar Alok, Maumere, mendatangi Kantor Bupati Sikka, sambil membawa aneka sayur, ubi dan pisang.

“TPI dijadikan pasar melalui Surat Keputusan bupati Nomor 267/HK/2018 tentang Pasar Pagi Terbatas. Kebijakan pemerintah kabupaten Sikka ini sangat tidak efektif dan tidak mendasar, karena melanggar aturan hukum,” sebut Ketua GMNI Sikka, Emilianus Y. Naga, Kamis (20/12/2018).

Menurut Emilianus, dampak dari kebijakan tersebut berpengaruh terhadap menurunnya pendapatan para pedagang di pasar induk, pasar Alok. Ini bentuk deskriminasi dan ketidakadilan akibat dari kebijakan pemerintah yang tidak efektif.

Ketua GMNI cabang Sikka, Emilianus Y. Naga (kanan) -Foto : Ebed de Rosary

“Kebijakan pemerintah tentang Pasar Pagi Terbatas, tidak memperhatikan faktor Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), yaitu mengurangi keindahan kota, karena transaksi tersebut  menyebabkan banyak sampah,” tegasnya.

Selain itu, para pedagang di pasar pagi terbatas menjual barang dagangannya hingga emperan pertokoan. Juga menimbulkan kemacetan lalu lintas di sekitarnya.

“Untuk menormalisasikan kembali fungsi dari TPI dan pasar, maka para pedagang harus dimobilisasi kembali ke pasar Alok. Karena itu, sebagai organisasi yang peka terhadap kebijakan pemerintah yang tidak efektif dan mendasar pada aturan hukum, maka GMNI cabang Sikka meminta kebijakan ini dicabut,” ungkapnya.

GMNI Sikka mendesak Bupati Sikka untuk segera mencabut kembali kebijakan tentang Pasar Pagi Terbatas di TPI. Jika dalam kurun waktu 3 x 24 jam pernyataan poin satu tidak diindahkan, GMNI Sikka siap mengambil langkah tegas untuk menyikapi hal ini.

Viventius Valerianus, salah seorang pedagang di pasar Alok yang ikut demo menjelaskan, pihaknya melakukan demo untuk menyampaikan apa yang dirasakan pedagang di pasar Alok selama ini.

“Pasar Alok dikatakan pasar terbesar, tetapi kenapa harus membuka pasar lagi di TPI yang dinamakan pasar pagi terbatas? Masyarakat kota Maumere ini biasanya belanja saat pagi saja sampai jam 09.00 WITA saja. Dengan demikian, pasti dengan sendirinya pasar Alok akan sepi,” sebutnya.

Pedagang ubi dan pisang ini, dulu mendapat penghasilan ratusan ribu rupiah, tapi sekarang ini sejak adanya pasar pagi terbatas, penghasilan hanya Rp20 ribu sampai Rp30 ribu sehari.

“Bagaimana mungkin kami bisa memenuhi kebutuhan keluarga, apalagi membiayai anak sekolah? Belum lagi di Sikka ini banyak sekali urusan adat yang membutuhkan banyak uang,” ungkapnya.

Vintus meminta, agar pemerintah fokus terlebih dahulu mengembangkan dan membuat pasar Alok ramai dikunjungi pembeli. Kalau sudah ramai baru melihat lagi, apakah perlu membuka pasar pagi terbatas.

“Banyak hal yang harus diperbaiki. Ada juga sembilan poin yang dijanjikan Bupati Sikka kepada pedagang saat kampanye waktu itu. Semua kesepakatan itu dibuat di atas meterai, dan kami juga membawanya,” tuturnya.

Kalau tetap dipertahankan pasar pagi terbatas, tegas Vintus, maka pasar Alok akan semakin sepi. Pihaknya juga banyak permintaan terkait dengan permasalahan sampah, WC dan tempat berjualan untuk para pedagang.

“Kenapa hasil pertanian kita dijual pedagang dan diletakkan di tanah,” ujarnya.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, mengatakan dirinya menyambut baik aksi itu, sebab mahasiswa GMNI sangat peka terhadap kebijakan publik. Sebuah kebijakan berjalan bagus kalau ada kontrol, dan ini merupakan bentuk kontrol gratis.

“Biasanya untuk mengontrol, pemerintah membayar auditor manajemen untuk menilai kebijakan-kebijakan ini benar atau tidak. Sebelum melakukan itu, pasti sudah punya perhitungan tinggi,” tegasnya.

Tidak semua kebijakan, kata Roby, sapaannya, mendapat dukungan 100 persen. Pasti ada yang pro dan kontra. Ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, dan ini harus dianalisa secara luas, seberapa besar dampak positif dan seberapa besar dampak negatif.

“Pemerintah terus melakukan uji publik, bukan berarti pemerintah diam. Tadi mempersoalkan pendapatan pedagang di pasar Alok menurun. Banyak faktor yang menyebabkan itu dan faktor yang utama, yakni ukuran ekonomi dan peredaran uang,” terangnya.

Menurut Roby, daya beli masyarakat rendah juga sangat berpengaruh. Sehingga, bukan hanya kebijakan memindahkan pasar atau membuat pasar pagi, tetapi itu banyak faktor.

“Ada statistiknya bulan-bulan berapa orang punya banyak uang dan bulan-bulan berapa orang sulit uang,” pungkasnya.

Lihat juga...