Pembuatan Ikan Asin di Lamsel Kesulitan Bahan Baku Akibat Cuaca Buruk

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Sejumlah nelayan pembuat ikan asin di pantai pesisir Lamsel kekurangan bahan baku. Cuaca buruk didominasi gelombang tinggi dan angin kencang membuat nelayan yang biasa melaut di Selat Sunda sementara berhenti sejak sepekan terakhir.

“Sejumlah nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap jaring payang hampir sepekan terakhir lebih banyak istirahat, tidak menangkap ikan,” terang Solong (50) salah satu pembuat ikan asin tawar di Dusun Muara Piluk, Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (17/12/2018).

Selain itu, harga ikan teri juga lebih mahal dari sebelumnya, berkisar Rp200.000, sebagian mencapai Rp220.000 per cekeng. Pada kondisi normal satu keranjang plastik berisi 15 kilogram dibeli hanya Rp180.000.

“Yang dibeli selain jenis teri sepert selar, salem dan jenis lain untuk pembuatan ikan asin tawar,” tambahnya.

Ikan asin tawar tersebut sebagian melalui proses perebusan sebelum dijemur hanya saja tidak diberi garam. Meski diawetkan tanpa garam, namun harganya lebih mahal, yakni Rp65.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Sementara untuk teri rebus asin yang berkisar Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram.

“Saat pasokan ikan kembali membaik saya memproduksi minimal seratus kilogram untuk memenuhi permintaan rumah makan,” cetus Solong.

Kondisi cuaca angin kencang serta gelombang tinggi tersebut diakui sejumlah nelayan pencari ikan jenis bagan congkel. Suwardi (36) mengaku kecepatan angin di perairan Selat Sunda lebih ekstrim dibanding kondisi normal.

Saat kondisi normal kecepatan angin hanya berkisar 3 hingga 5 knot. Namun sepekan terakhir kecepatan angin mencapai 10 hingga 25 knot terutama saat sore hingga malam hari.

Ketinggian gelombang biasanya hanya 1,25 meter saat kondisi normal bahkan kini mencapai 2,50 hingga 4,0 meter dan berbahaya untuk aktivitas melaut.

“Peringatan untuk tidak melaut sudah disampaikan oleh pihak terkait dan sebagai nelayan tradisional kami juga memperhitungkan faktor keselamatan,” terang Suwardi.

Pada kondisi normal Suwardi dan puluhan nelayan bagan congkel mengaku kerap mencari ikan di Selat Sunda. Lokasi favorit di antaranya di sekitar Pulau Legundi, Pulau Sebesi dan di dekat pulau Sangiang.

Kondisi cuaca ekstrim sudah menjadi catatan bagi nelayan menjelang pergantian tahun. Angin kencang dan gelombang tinggi disebut Suwardi membuat sejumlah ikan kerap bermigrasi ke lokasi yang lebih aman.

Lokasi tersebut di antaranya di sekitar Gunung Anak Krakatau dengan sejumlah pulau pelindung di antaranya Rakata, Sertung dan Panjang. Namun nelayan dilarang mencari ikan di wilayah tersebut karena merupakan kawasan cagar alam.

Selain itu Gunung Anak Krakatau yang sedang aktif membuat nelayan dilarang mendekat radius 2 kilometer.

Ikan Asin
Opung, salah satu nelayan menyiapkan ikan kuniran untuk diolah sebagian merupakan stok tangkapan sepekan sebelumnya yang disimpan di lemari pendingin. Foto: Henk Widi

Opung, nelayan tradisional dengan perahu ketinting dan alat tangkap pancing rawe dasar memilih istirahat saat kondisi cuaca buruk. Nelayan yang kerap melaut di sekitar Pulau Kandang Balak, Pulau Prajurit di Selat Sunda tersebut mengaku kondisi cuaca perairan berbahaya untuk melaut.

Pemasok jenis kuniran, kerapu,lobster dan ikan karang untuk sejumlah warung kuliner tersebut bahkan mengandalkan stok pekan sebelumnya untuk dijual.

Sebagai nelayan tradisional Opung menyebut saat ini prakiraan cuaca juga sudah bisa dilihat dari laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Menggunakan fasilitas telepon pintar (smartphone) miliknya ia bisa memantau perkembangan cuaca di perairan Selat Sunda.

Selain gelombang tinggi dan angin kencang ia mengaku nelayan telah dihimbau tidak melaut. Resiko keselamatan akibat kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 2 meter membuat sejumlah nelayan seperti dirinya memilih beristirahat hingga kondisi cuaca normal.

Lihat juga...