Pemda Sikka Diminta Fasilitasi Pengrajin Daur Ulang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

153
Bunga dari kulit jagung yang diproduksi Ursula dan teman-teman guru dan orang tua di TK Primantari Langir yang bisa diproduksi massal dan dijual .Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas perindustrian, Koperasi dan UKM diminta memfasilitasi kelompok-kelompok di masyarakat maupun di sekolah agar diberikan pelatihan kerajinan tangan mendaur ulang sampah dan limbah.

Thomas A. Edison salah seorang pengrajin yang membuat aneka kerajinan tangan dari barang bekas dan limbah yang ada di sekitar lingkungannya . Foto : Ebed de Rosary

“Banyak sekali kelompok di masyarakat dan sekolah-sekolah yang meminta kepada saya untuk diberikan pelatihan, namun karena waktunya terbatas tidak bisa mengunjungi mereka di desa maupun kecamatan,” sebut Ursula A. Udariyani, SPd, AUD, salah seorang pengrajin di Sikka, Rabu (4/12/2018).

Dikatakan Ursula, sebagai orang berpengalaman bekerja di perusahaan handycraft di Lombok NTB, dirinya memiliki banyak keterampilan yang ingin dibagikan kepada orang lain.

“Saya ingin sekali berbagi ilmu dan keterampilan agar para pengrajin dan masyarakat yang tertarik bisa membuat berbagai aneka kerajinan tangan. Para pengrajin harus selalu diberikan pelatihan agar mereka bisa terus berkreasi dengan karya yang baru,” tuturnya.

Ursula yang juga kepala sekolah TK Primantari Langir ini mengakui, tahun 2017 lalu dirinya diminta memberikan pelatihan cara membuat kerajinan tangan dari sampah plastik dan limbah serta bahan yang ada di sekitar tempat tinggal, namun tidak maksimal.

“Dari 11 kecamatan, saya hanya sanggup beri pelatihan di 9 kecamatan saja dengan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga kabupaten Sikka. Ada 2 kecamatan yang tidak saya datangai karena medan jalannya buruk serta berada di kepulauan,” terangnya.

Kalau peserta didatangkan di kota Maumere dan pelatihan dilaksanakan secara intens, kata Ursula, tentunya lebih baik dan hanya membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama.

‘Masih banyak kerajinan tangan yang bsia dihasilkan dan bahannya ada di sekitar kita dan mudah dijumpai. Ini penting agar para pengrajin bisa mendapatkan ilmu lebih termasuk bisa juga mengundang instruktur dari luar daerah yang berpengalaman agar bisa membuka wawasan dan menambah keterampilan para pengrajin,” sebutnya.

Thomas A.Edison, salah seroang pengrajin yang ditemui Cendana News mengakui, pihaknya jarang sekali mengikuti pelatihan di luar daerah maupun diadakan di kota Maumere.

“Saya pernah sekali mengikuti pelatihan di luar daerah dan ternyata saat pelatihan kita bisa belajar dari pengrajin lainnya mengenai proses membuat aneka kerajinan tangan dari sampah serta bahan baku yang ada di sekitar kita,” tuturnya.

Thomas mengakui, setelah mendapatkan pelatihan dirinya pun membuat aneka kerajinan dari bambu serta tempurung kelapa. Juga ada kerajinan dari bahan pelepah pisang dengan berbagai jenis kerajinan.

“Saya selalu membuat aneka kerajinan tapi saat ini hanya kalau ada pesanan saja sebab sulit sekali memasarkan produk kami,” ungkapnya.

Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindutrian Koperasi dan UKM kabupaten Sikka, Tadeus Pega mengakui, pihaknya memang jarang sekali memberikan pelatihan, sebab dana terbatas.

“Dana kami terbatas sehingga terkadang kami memanfaatkan pelatihan yang dilaksanakan dari dinas Perindutrian provinsi NTT. Memang banyak pengrajin yang ingin berkreasi namun terkadang mereka kesulitan menjual produk mereka sehingga tidak menekuni usaha ini,” tuturnya.

Menurut Tadeus, pihaknya lebih memilih memberikan pelatihan dan bantuan bahan tenun kepada kelompok, sebab hasil produksi tenun ikat lebih mudah dipasarkan. Banyak kelompok khususnya perempuan yang lebih memilih diberikan bantuan alat tenun dan bahan tenun.

Baca Juga
Lihat juga...