Pemkab Gunung Kidul Perbaiki Drainase Pasar Darurat Playen

112
Ilustrasi pasar tradisional - Dok CDN

GUNUNG KIDUL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memperbaiki saluran drainase yang ada di Pasar Darurat Playen. Hal itu untuk menindaklanjuti keluhan pedagang, terkait genangan air yang menyebabkan bau busuk.

“Kami, sudah mendengar keluhan dari pedagang terkait sumber bau. Setelah kami meninjau lokasi, ternyata berasal dari limbah pencucian tahu dan daging milik pedagang,” kata Kepala Bidang Pasar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunung Kidul, Ari Setiawan, Senin (3/12/2018).

Sebagai solusi, saat ini sudah dibangun septic tank. Harapannya, limbah dapat segera dialirkan ke bak penampungan yang sudah berada di sebelah timur pasar. “Untuk genangan, kami sudah siapkan mesin pompa yang nantinya air akan disedot dibuang ke sungai,” tambahnya.

Dibagian lain, mengenai pembangunan Pasar Playen, Ari menyebut, pemkab menargetkan pembangunan selesai di tahun depan. Rencananya, Pasar Playen bisa menampung 403 orang pedagang. “Tahun depan diharapkan selesai, sehingga pedagang segera pindah ke pasar yang selesai direnovasi,” tandasnya.

Pasar Playen, akan menjadi pasar percontohan pertama yang dibangun Pemkab Gunung Kidul. Pembangunannya menghabiskan dana Rp6 miliar. “Tahap pertama sudah selesai 100 persen, tahap kedua mulai digarap tahun depan dengan anggaran Rp4,5 miliar,” tambahnya.

Pasar yang berada di Desa Ngawu tersebut, nanti akan menamnpung aktivitas jual beli secara terpusat di dalam satu titik. Tidak berpencar, seperti pada umumnya pasar tradisional di Gunung Kidul. “Konsep pembangunan pasar dengan model satu lebih simple, dan rapi, berkaitan penataan pedagang. Pasar Playen akan menjadi percontohan agar tetap eksis,” tambahnya.

Pembangunan pasar tradisional, diupayakan oleh Pemkab Gunung Kidul, agar bisa bersaing dengan pasar modern, yang saat ini banyak bermunculan di Gunung Kidul. “Pemkab akan melakukan revitalisasi pasar tradisional, untuk membangkitkan dan menggerakan kembali eksistensinya, sekaligus memposisikan pasar tradisional dengan konsep belanja satu atap yang aman, nyaman, bersih dan ekonomis,” tandasnya.

Salah seorang pedagang, Sayuti, mengatakan, kesulitan berdagang saat musim hujan. Ia harus mengevakuasi barang dagangan ke lokasi aman, agar terhindar dari genangan air. “Semoga pasar baru nanti pembangunannya tepat waktu,” harapnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...