Pemkab Jember Gelar Job Market Bagi Difabel

Editor: Koko Triarko

191
JEMBER – Momen Hari Disabilitas Internasional (HDI) yang diperingati setiap tanggal 3 Desember, merupakan tonggak semangat perjuangan dalam meraih kesetaraan di segala sendi kehidupan sebagai manusia.
Di Jember, peringatan HDI kali ini dipusatkan di Alun-alun Kota Jember, pada Sabtu (1/12/2018), diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat.
Acara dihadiri ratusan penyandang disabilitas dari berbagai organisasi penyandang disabilitas (OPD), terdiri dari Persatuan Penyandang Cacat (Perpenca), National Paralympic Committee Indonesia (NPCI), Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Difabel Motorcycle Indonesia (DMI) dan Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin).
Salah satu kegiatan yang cukup menarik adalah Job Market Fair khusus penyandang disabilitas. Sebanyak 72 lowongan kerja disediakan oleh 22 perusahaan untuk penyandang disabilitas di Jember.
Dalam sambutannya, Bupati Jember, Faida, mengatakan, dalam perda dan perbup, mewajibkan perusahaan untuk memberikan kesempatan kerja minimal satu persen kepada difabel.
Bupati Jember, Faida, saat menyapa difabel yang hadir dalam peringatan HDI di Alun-alun Kota Jember, Sabtu (1/12/2018). -Foto: Kusbandono
Lowongan ini disesuaikan dengan kondisi dan kompetensi yang dimiliki para difabel. Bupati berharap, lowongan yang tersedia itu dapat diisi oleh para difabel di Jember.
“Sejatinya, mereka juga mempunyai potensi yang luar biasa, bila bisa ditempatkan di tempat yang sesuai dengan kondisi dan potensinya,” ujar Faida, usai sambutan pada peringatan HDI, Sabtu (1/12/2018).
Ketua Dewan Pertimbangan Perpenca (Persatuan Penyandang Cacat) Jember, Asrorul Mais, menyambut baik atas langkah pemerintah mau menerima aspirasi dari penyandang disabilitas Jember, untuk menyelenggarakan job market fair khusus disabilitas.
“Ini yang sudah lama kami tunggu,” katanya.
Terkait penyelenggaraan job market fair, Mais memberikan catatan sebagai masukan untuk penyelenggaraan berikutnya.
“Tadi saya sempat mengadakan sedikit interview dengan beberapa stand pemberi kerja, secara umum mereka memberi pekerjaan pada bidang-bidang pekerjaan yang sedikit menggunakan aktivitas fisik,  namun permasalahannya ada beberapa syarat kualifikasi yang “ditakuti” oleh pencari kerja disabilitas,  salah satunya syarat akademis, karena riilnya,  banyak disabilitas yang tidak memiliki ijazah formal, namun sebenarnya bisa melakukan pekerjaan tersebut,” jelasnya.
Mais juga mengungkapkan, difabel Jember masih merasa kurang percaya diri, karena takut dengan kualifikasi pendidikan. Sementara pendidikan para difabel secara umum tidak tinggi.
“Pekerjaan kan yang dibutuhkan skill, bukan pendidikan. Meski kualifikasi itu perlu juga,” terangnya.
Dengan kondisi demikian, pihaknya menilai, bahwa 22 perusahaan yang peduli dengan memberikan kesempatan lowongan kerja bagi penyandang disabilitas dalam job market fair tersebut, belum termasuk dalam katagori perusahaan ramah disabilitas.
“Ada dua hal yang harus dipahami, pertama 22 perusahaan yang membuka peluang kerja bagi disabilitas, memang layak disebut peduli. Kemudian yang kedua, esensi dari Job Market bagi disabilitas adalah kesepahaman visi dan persepsi antara pemerintah, perusahaan dan disabilitas terkait kerja dan pekerjaan bagi disabilitas. Poin kedua ini yang belum,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...