Pemkab Kampar Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir

PEKANBARU  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar, Riau, Selasa, menetapkan status tanggap darurat banjir karena kondisi bencana yang meluas dan pemerintah setempat kewalahan untuk mengantisipasi.

“Kita sudah meningkatkan untuk tanggap darurat, menyusul status siaga darurat. Surat keputusan ditandatangani Bupati pada 11 Desember 2018,” kata Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daearah (BPBD) Kampar, Adi Candra, di Pekanbaru.

Ia mengatakan, BPBD Kampar kewalahan untuk menjangkau daerah yang banjir karena keterbatasan personel yang hanya 14 orang. Sedangkan daerah yang rawan dan mulai mengalami banjir ada 10 kecamatan dari total 21 kecamatan yang ada.

“Ampun saya karena personel terbatas. Kesulitannya karena beragam daerah kebencanaan di Kampar yang luas dan jaraknya tidak dekat,” katanya.

Data terakhir menyatakan, banjir di Kampar sudah ada yang berlangsung selama sepekan terakhir di daerah Kecamatan Gunung Sahilan karena meluapnya sungai di daerah itu.

Kemudian daerah-daerah di sepanjang aliran Sungai Kampar juga mulai banjir terkena luapan air sungai itu sejak Jumat(7/12).

Selain itu, banjir di daerah itu juga sudah menelan satu orang korban jiwa, yakni anak berusia empat tahun bernama Sazia Sapana. “Satu orang meninggal, anak kecil perempuan usia empat tahun karena kelalaian orangtuanya,” kata Candra.

Berdasarkan data BPBD Kampar, banjir sudah menggenangi Desa Sei Jalau, Kecamatan Kampar Utara.

Terdapat sekitar 15 unit rumah terendam, dan fasilitas umum juga terkena dampak yakni SDN 004 sehingga aktivitas sekolah terpaksa diliburkan.

Kemudian banjir masih menggenangi Desa Sei Paku, Kecamatan Kampar Kiri, ada 85 unit rumah masih terendam, termasuk fasilitas umum, tempat ibadah dan SDN 022 yang terpaksa diliburkan.

Ia mengatakan, selain banjir akibat luapan Sungai Kampar, ada juga banjir akibat luapan Sungai Subayang tepatnya di Desa Teluk Paman, Kecamatan Kampar Kiri, menggenangi sebanyak sekitar 63 rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50 CM hingga 100 meter.

“Di lokasi ini BPBD Kampar telah mendirikan tenda untuk digunakan warga,” katanya.

Kemudian banjir di Desa Gunung Sahilan Kecamatan Gunung Sahilan merendam Dusun Koto Betung Rt 01 dan Rt 02 Rw 01, dan ada 75 rumah terdampak banjir. Akses jalan menuju desa tidak bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua roda empat.

“Altenatif lain masyarakat menggunakan sampan untuk masuk ke desa. Ketinggian air bervariasi yakni 80 sampai 100 CM,” katanya sambil mengatakan BPBD juga sudah mendirikan tenda untuk warga di daerah itu.

Selain itu, banjir juga terjadi di Desa Batu Belah dengan warga yang terdampak sebanyak 20 kepala keluarga (KK) atau setara 95 jiwa, Desa Tanjung Balam Kecamatan Siak Hulu ada 150 KK yang terdampak banjir dengan ketinggian air berkisar 60-90 centimeter, dan Desa Kuau Kecamatan Tambang ada sekitar 50 rumah yang tergenang dengan ketinggian berkisar 30 CM sampai dua meter.

Selain itu, di Desa Kuau ada SDN 008 yang terdampak banjir sehingga 360 siswanya terpaksa ujian di kelas darurat di masjid, mushala dan kantor desa.

Begitu pula, banjir juga telah memutus infrastruktur jalan seperti di Desa Tanjung Rambutan Kecamatan Kampar karena akses menuju jalan desa tergenang banjir.

Di Desa Pulau Payung Kecamatan Kampar Utara karena ketinggian banjir berkisar 10-20 CM, Desa Tanjung Balam Kecamatan Siak Hulu akses jalan ke desa menjadi terputus total.

Pemprov Riau sejak 7 Desember 2018 sudah menetapkan status Siaga Darurat Banjir dan Longsor.

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Gafur, mengatakan pihaknya sudah turun untuk membantu korban banjir di Kabupaten Kampar.

Pada Selasa(11/12) siang, BPBD Riau membantu mengevakuasi warga Desa Kuau dengan perahu karet dan mendirikan empat tenda yang bisa digunakan oleh warga.

“Sejauh ini sebagian warga mengungsi ke rumah warga lain dan mushala. Kita sudah mendirikan empat tenda di sana,” katanya. (Ant)

Lihat juga...