Penanganan Pasca-Tsunami, Perlu Strategi Terpadu

BANDARLAMPUNG – Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) harus menyiapkan penanganan terpadu pasca-tsunami mengingat penyebab bencana berbeda dan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sulit diprediksi.

Kesimpulan itu mengemuka dalam pembahasan pada pertemuan dengan jajaran Pemkab Lamsel, diikuti Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Nanang Ermanto, Sekdakab Fredy SM, Asisten Sekdakab Lamsel, dan perwakilan perusahaan BUMN maupun swasta, beserta para pihak lainnya.

Hasil pertemuan itu, berdasarkan rilis yang diterima di Bandarlampung, Sabtu, dinyatakan bahwa tipe penanggulangan bencana di Lampung akan berbeda dengan bencana tsunami di daerah lain, karena penyebabnya berbeda. Tidak bisa diprediksi kapan Gunung Anak Krakatau akan berhenti beraktivitas, bergolak.

Karena itu, diperlukan energi dan sumber daya yang panjang, sementara  sejumlah pihak mempunyai keterbatasan, sehingga diperlukan strategi dan kekompakan dalam penanggulangan bencana akibat aktivitas erupsi (letusan) Gunung Anak Krakatau di Lampung.

Rekomendasi pertemuan antara lain menyepakati penanggulangan bencana pascatsunami Selat Sunda akan dibagi dalam tiga fase, yaitu tanggap darurat, pemulihan pascatanggap darurat, dan pembangunan kembali.

Pada fase tanggap darurat, bantuan berupa logistik makanan untuk sementara sudah berlimpah, sehingga bantuan dalam bentuk logistik makanan belum diperlukan lagi.

Bantuan dalam bentuk obat-obatan masih diperlukan, namun tidak banyak lagi, dan direncanakan bantuan dari PT Pertamina (Persero) yang akan menurunkan bantuan obat dan tim medis.

Sedangkan untuk pengungsi pascatsunami, ada dua tipe pengungsi. Pengungsi tetap yang rumahnya rusak, sekitar 1.000-an orang, namun sudah mulai ada yang dijemput keluarga, dan pengungsi ‘kalong’ yang mengungsi hanya pada malam hari. Jumlahnya bisa mencapai 7.000-an orang, mengingat pada siang hari kembali ke lokasi.

Untuk mereka masih diperlukan bantuan dapur umum mandiri, seperti lampu emergency, wajan, panci, dan peralatan lainnya.

Anak-anak sekolah akan memasuki masa bersekolah kembali, sehingga diperlukan perlengkapan sekolah, seperti buku dan alat tulis serta keperluan pendidikan lainnya. Dengan memperhatikan kebutuhan itu, dimungkinkan untuk sarana belajar darurat (dengan koordinasi lanjutan untuk kebutuhannya).

Lalu, bagi warga di pengungsian, bisa diisi kegiatan dengan pemulihan trauma (trauma healing) dan memberikan pengetahuan kesadaran akan kondisi alam Lampung, sehingga mereka bersedia direlokasi dan mempunyai ide untuk memulai usaha baru, terutama yang tinggal di pinggiran pantai.

Pada fase pemulihan pascatanggap darurat, antara lain ada 2 sekolah dasar (SD) dan 1 madrasah ibtidaiyah (MI) yang rusak terkena dampak, perlu upaya agar sekolah tidak terkendala.

Diperlukan shelter atau penampungan sementara untuk pengungsi, termasuk rumah ibadah dan MCK juga diperlukan. Rencana relokasi lokasi, memperhatikan wilayah pantai akan tetap rawan selama Gunung Anak Krakatau terus aktif.

Upaya memberikan penyadaran dan pengetahuan bagi masyarakat terdampak aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau ini, untuk bersedia direlokasi, menemukan ide dan mampu memulai bisnis baru, diperlukan kelompok belajar untuk pembentukan usaha kecil menengah (UKM) termasuk pendampingan dan bantuan awal produksi/usaha.

Sedangkan untuk memulai tahap pemulihan akan diperlukan akademisi, sehingga pelibatan universitas-universitas dan perguruan tinggi di Lampung akan sangat diperlukan. Karena itu, diperlukan pula rapat koordinasi pemerintah, pelaku usaha dan universitas untuk merealisasikan.

Pada fase pembangunan kembali akan diperlukan lahan untuk relokasi, di dekat area terdampak, namun pada posisi yang lebih tinggi, karena Pemkab Lamsel hanya memiliki lahan di Kalianda, dan masyarakat nelayan belum tentu mau dipindahkan.

Sedangkan untuk pembangunan rumah sudah dikoordinasikan dengan Kementerian PUPR, dan diperlukan penataan kembali aspek lingkungan hidup.

Fase ini akan dibahas lebih lanjut setelah ada pemetaan dan data pemerintah bekerjasama dengan akademisi serta stake holders lain. (Ant)

Lihat juga...