Peneliti: Kondisi Politik Semakin Personal dan Terpolar

Editor: Koko Triarko

Peneliti (FISIP UB), Wawan Sobari, S.IP., MA . Ph.d., -Foto: Agus Nurchaliq 

MALANG – Kondisi politik saat ini membawa masyarakat Indonesia kepada perdebatan yang terpolar, pada dukungan masing-masing kandidat Capres, dan semakin personal mengarahkan kepada dua figur yang berkompetisi. 

Tim peneliti Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pokitik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Wawan Sobari, S.IP., MA . Ph.d., menyebutkan, personalisasi melahirkan polarisasi politik yang cenderung ekstrem di tengah masyarakat.

“Kondisi politik kita saat ini semakin personal dan semakin terpolar. Karena personalisasi politik, kita semakin kuat, maka dampaknya masyarakat semakin terpolar,” jelasnya, saat memberikan pemaparan pada acara Refleksi Akhir Tahun 2018, ‘Membaca  Indonesia yang Terpolar’ di FISIP UB, Rabu (26/12/2018).

Menurutnya, personalisasi politik terjadi karena orientasi politik masyarakat, pada umumnya hanya melihat bahwa pertarungan politik merupakan pertarungan individu. Meskipun di dalamnya juga ada koalisi partai, tapi kemudian yang mengedepan di masyarakat adalah figur, maka itu akan menjadi sangat personal.

Untuk itu, dapat dikatakan, bahwa personalisasi politik merupakan sebuah orientasi politik terhadap personal atau kandidat, daripada partai atau institusi pemerintah. Dalam kasus ini, figur atau tokoh politik menjadi lebih penting daripada kebijakan-kebijakan yang dibuat.

“Jadi, politik yang personal ini menimbulkan figur sebagai fokus dibandingkan program atau kebijakan. Sehingga kita lebih banyak memperhatikan gerak-gerik calon pemimpin,” ungkapnya.

Sementara itu, tim peneliti lainnya, Rachmad Gustomi, S.IP., M.IP., menyebutkan, sekarang ini perdebatan yang banyak disajikan oleh para netizen atau pengguna media sosial, bukan merupakan perdebatan yang substantif dan tidak mewakili kepentingan publik.

“Contohnya, perbincangan tentang cebong dan kampret itu bukan mewakili bagaimana rakyat Indonesia diwakili, tidak. Tapi, itu justru mewakili kelompok-kelompok elit siapa yang nantinya akan berkuasa,” terangnya.

Lihat juga...