Pengakuan

CERPEN POLANCO S. ACHRI

266

AKU adalah seekor ular putih yang berada di akuarium sebuah kebun binatang kota. Tepatnya, di area reptil dan amfibi.

Begitulah yang kutahu tentang tempat ini. Tempat yang membuatku sempat merasa muak dengan manusia, tapi hal itu hanya sesaat, karena setelahnya aku jadi bertanya-tanya: apa yang aku muakkan dari manusia?

Apakah karena mereka manusia, dan berbeda dengan aku atau hewan lainnya? Apakah aku muak karena mereka begitu banyak dan menjadikan aku tontonan? Atau karena apa?

Namun, makin lama pula, aku mulai tertarik pada manusia. Mungkin hal inilah yang manusia sebut sikap membenci tetapi mencintai. Mungkin begitu.

Sebelum masuk dalam akuarium ini —dan aku hanya bisa merasa, bahwa hal itu lama sekali— aku hanya tahu dan mengenal manusia sangat sedikit. Hanya dari kisah ular-ular tua yang kutemui dalam perjalanan masa mudaku.

Aku masih ingat saat seorang gadis memandangiku dengan kekaguman yang sangat luar biasa, dan beberapa saat kemudian datanglah seorang lelaki mendekatinya. Ah, mereka sepasang kekasih. Mereka memandangiku dan aku menduga mereka kagum, entah karena apa.

Sebelum aku menduga-duga, si lelaki segera mengajak si gadis untuk pergi dan dari raut wajahnya aku menangkap sedikit ketakutan. Ah! Mungkin dia teringat kisah Genesis. Kisah yang aku dengar dari temanku dulu.

Aku juga pernah menemukan orang yang menyentuh kaca akuariumku, padahal di sana sangat jelas tertulis: “Dilarang memegang kaca!” —dengan tanda seru! Namun, dia tetap saja menyentuhnya. Dan naluri memintaku mengikuti jarinya yang mengetuk. Dari raut wajahnya, aku melihat hasrat berkuasa. Entahlah, barangkali hanya dugaanku saja.

Dulu, sebelum kebun binatang ini ditata ulang, aku memiliki seorang kawan. Kawan yang jauh lebih tua dari aku —meski aku sendiri pun juga termasuk hitungan tua jika memakai hitungan manusia. Ya, dia adalah seekor kura-kura.

Tubuhnya amat besar, dan di bagian punggungnya penuh dengan lumut. Aku sangat menyukainya, dan jika butuh alasan untuk menyukai, maka akan kukatakan kalau dia pandai bercerita. Dia bernama Kha.

Kha sangat menyukai namanya. Kha sering berkata, bahwa tugas manusia adalah menamai, dan Tuhanlah yang menanamkan hasrat itu pada mereka. Sebuah kemampuan yang akan sulit ditiru makhluk lainnya.

Saat mengingat bagian itu, entah kenapa aku selalu senang dan tersenyum. Kha berkata lagi, kalau dengan nama, setiap makhluk akan lebih bercahaya, dan dia merasakan hal itu. Kha pula yang mengajakku merasakannya lebih dalam, dan belajar tidak membenci manusia —dalam hal-hal tertentu.

Namun, kini aku tidak tahu ia ada di mana. Apakah dia masih di kebun binatang ini, atau tidak. Masih hidup atau tidak pun aku tidak tahu. Di samping kanan dan kiriku adalah ular, namun aku tak tahu apa. Yang bisa kulihat hanya depan! Manusia yang menontonku.

Sebelum penataan ulang kebun binatang, Kha pernah berkata padaku dengan nada yang sedikit lebih bijak.

“Nak, aku melihat kau sudah tidak terlalu membenci manusia, dan aku bersyukur untuk itu. Maka, sebagai hadiahnya aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat menarik.” Saat mendengar itu, entah naluri atau apalah namanya, membuatku mengangguk mengiyakan, layaknya bocah cilik dengan kakeknya.

“Aku akan memberi tahumu jenis manusia yang sangat menarik. Manusia lainlah yang memberikan julukan pada mereka. Mereka adalah pujangga, dan mereka disimbolkan dengan ular. Iya, Nak, dengan ular. Mereka di zaman ini lebih dikenal dengan nama penyair. Penyair.”

Mendengar itu semua, aku hanya terdiam. Terpukau.

“Kenapa mereka disimbolkan dengan ular?”

“Ah, sudah aku duga. Kau akan sangat tertarik,” balasnya. “Aku sendiri tak tahu pasti. Tapi aku pernah mendengar, bahwa mereka memiliki bisa dalam rangkaian kata.”

“Kata? Apakah seperti sabda?” tanyaku, dan Kha mengangguk sambil tersenyum.  “Lalu seperti apa ciri mereka, Kha? Apa yang membuatku bisa mengenali mereka?”

“Aku yakin kau pasti bisa mengenali mereka.”

Sejak saat itu aku sudah tak melihat Kha lagi. Aku selalu berharap semoga dia bahagia. Walau bahagia sendiri aku tidak tahu artinya apa, aku hanya mendengar ucapan itu dari manusia yang sepintas lalu.

Akhirnya, kini aku menjadi penunggu. Aku dengar, manusia tidak banyak yang suka menunggu. Tapi aku ini ular, jadi menunggu adalah persoalan yang biasa. Namun, apa yang aku tunggu adalah penyair, dan aku tidaklah tahu penyair itu seperti apa. Kha bilang, mereka disimbolkan seperti ular.

Ah, manusia memang makhluk yang suka menyimbolkan, dan dalam hal ini aku iri pada mereka. Berarti, penyair memiliki kemiripan dengan aku. Aha! Aku hanya perlu menemukan manusia yang serupa aku.

Hari itu, aku bertemu dengan pemuda itu. Biasanya aku melihat pemuda yang berjalan bersama-sama: entah dengan kekasih, kawan, keluarga, atau siapa pun. Namun tidak dengan pemuda itu. Aku sama sekali tidak menemukan apa-apa selain kesunyian dan kesendirian yang sangat membuatku tertarik.

Wajah dan perangai dirinya sangat biasa, benar-benar biasa. Ah, barangkali sebab biasa itu pulalah yang membuatku terbawa olehnya.

Pemuda itu mendekatkan wajahnya, lalu berkata, “Engkau adalah ular. Namun, nyatanya, aku mengagumimu sebagai diriku yang terkurung dalam akuarium. Menunggu sesuatu yang aku sendiri tak tahu, dan untuk alasan apa aku menunggu. Hidup adalah pertanyaan dan jawaban yang begitu samar. Namun kau dan aku adalah satu. Bukan begitu?”

Setelah berkata begitu ia pergi. Entah ke mana. Sejak hari itu aku masih menanti dirinya.  ***

Yogyakarta, 2018

Polanco S. Achri, lahir di Yogyakarta, Juli 1998. Menulis puisi, prosa, maupun naskah drama. Buku  naskah drama pendeknya berjudul Branjangan. Studi di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...