Pengakuan

CERPEN POLANCO S. ACHRI

Dulu, sebelum kebun binatang ini ditata ulang, aku memiliki seorang kawan. Kawan yang jauh lebih tua dari aku —meski aku sendiri pun juga termasuk hitungan tua jika memakai hitungan manusia. Ya, dia adalah seekor kura-kura.

Tubuhnya amat besar, dan di bagian punggungnya penuh dengan lumut. Aku sangat menyukainya, dan jika butuh alasan untuk menyukai, maka akan kukatakan kalau dia pandai bercerita. Dia bernama Kha.

Kha sangat menyukai namanya. Kha sering berkata, bahwa tugas manusia adalah menamai, dan Tuhanlah yang menanamkan hasrat itu pada mereka. Sebuah kemampuan yang akan sulit ditiru makhluk lainnya.

Saat mengingat bagian itu, entah kenapa aku selalu senang dan tersenyum. Kha berkata lagi, kalau dengan nama, setiap makhluk akan lebih bercahaya, dan dia merasakan hal itu. Kha pula yang mengajakku merasakannya lebih dalam, dan belajar tidak membenci manusia —dalam hal-hal tertentu.

Namun, kini aku tidak tahu ia ada di mana. Apakah dia masih di kebun binatang ini, atau tidak. Masih hidup atau tidak pun aku tidak tahu. Di samping kanan dan kiriku adalah ular, namun aku tak tahu apa. Yang bisa kulihat hanya depan! Manusia yang menontonku.

Sebelum penataan ulang kebun binatang, Kha pernah berkata padaku dengan nada yang sedikit lebih bijak.

“Nak, aku melihat kau sudah tidak terlalu membenci manusia, dan aku bersyukur untuk itu. Maka, sebagai hadiahnya aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat menarik.” Saat mendengar itu, entah naluri atau apalah namanya, membuatku mengangguk mengiyakan, layaknya bocah cilik dengan kakeknya.

“Aku akan memberi tahumu jenis manusia yang sangat menarik. Manusia lainlah yang memberikan julukan pada mereka. Mereka adalah pujangga, dan mereka disimbolkan dengan ular. Iya, Nak, dengan ular. Mereka di zaman ini lebih dikenal dengan nama penyair. Penyair.”

Lihat juga...