Pengawasan Kampanye 75 Hari, Bawaslu Dapati Sejumlah Pelanggaran

JAKARTA — Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merilis hasil pengawasan di seluruh daerah selama 75 hari kampanye sejak dimulai pada 23 September 2018 lalu.

Dalam rilis pers Bawaslu, Jumat (7/12/2018), lembaga pengawas tersebut mendapati sejumlah dugaan pelanggaran pemilu baik terkait dengan alat peraga kampanye, iklan kampanye di media massa, pelanggaran kampanye di tempat terlarang, netralitas ASN hingga politik uang.

Bawaslu mencatat kampanye dengan metode pertemuan langsung yang dicatat dari hasil pengawasan Pemilu sebanyak 12.643 kegiatan, dengan rincian pertemuan terbatas sebanyak 4.586 kegiatan (36 persen), pertemuan tatap muka sebanyak 6.248 kegiatan (49 persen) dan kegiatan lainnya sebanyak 1.809 kegiatan (14 persen).

Terkait dengan dugaan pelanggaran pemilu, sebagian besar pelanggaran terkait APK adalah pemasangan di tempat yang dilarang yaitu sebanyak 176.493 kegiatan (92 persen), APK yang mengandung materi dan informasi yang dilarang sebanyak 14.255 kegiatan (7 persen) dan APK yang ditempel di kendaraan angkutan umum sebanyak 1.381 kegiatan (1 persen).

Untuk dugaan pelanggaran pemasangan iklan kampanye di media massa cetak dan elektronik tercatat sebanyak 414 iklan kampanye, terdiri dari iklan kampanye di media massa cetak sebanyak 249 iklan (60 persen), dugaan pelanggaran iklan kampanye di media elektronik sebanyak 153 iklan (37 persen) dan dugaan pelanggaran iklan kampanye di radio sebanyak 12 iklan (3 persen). Iklan kampanye di media massa sesuai dengan ketentuan pasal 276 UU No.7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, boleh dilaksanakan 21 hari sebelum masa tenang (24 Maret 2018) hingga masa tenang.

Bawaslu mencatat dugaan pelanggaran kegiatan kampanye yang dilakukan di tempat yang dilarang sebanyak 308 kegiatan. Dugaan pelanggaran paling banyak adalah yang dilakukan di lokasi fasilitas pemerintah yaitu 226 tempat (73 persen), dugaan pelanggaran kampanye dilakukan di tempat ibadah yaitu 49 tempat (16 persen) dan dugaan pelanggaran kampanye dilakukan di tempat pendidikan yaitu 33 tempat (11 persen).

Lihat juga...