Pengelolaan DAS Buruk, Picu Banjir dan Longsor

Ilustrasi - Longsor - Dok CDN

PADANG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan, musibah banjir dan longsor yang terjadi di beberapa daerah di wilayah tersebut, dipicu buruknya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Dari analisa Walhi Sumbar di beberapa wilayah yang mengalami banjir seperti Nagari Guguak, Kecamatan Kayu Tanam, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan dan Kota Padang memiliki topografis yang terjal dengan aliran sungai yang pendek,” kata Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Uslaini, Minggu (16/12/2018).

Menurutnya, topografis tersebut menyebabkan aliran air cenderung tajam dan menghantam, bila hujan turun deras. Selain itu, DAS di lokasi kejadian banjir juga terancam dan kritis. “Ini bisa dibuktikan dari data deforestasi Dinas Kehutanan Sumbar, hutan di daerah ini telah mengalami deforestasi dan degradasi. Dari 1999 hingga 2016 luasnya mencapai 7.900 hektare atau setara dengan tiga kali luas Kota Bukittinggi,” ujar Uslaini.

Dinilainya, deforestasi tersebut terjadi akibat pembangunan sektor legal dan ilegal. Sektor legal adalah, alih fungsi lahan seperti pemberian izin tambang di dalam kawasan hutan dan hulu sungai. Sementara kegiatan tersebut, dapat mengancam ekosistem sungai dan kondisi hutan.

Selain itu, pemberian izin oleh pemerintah di sektor kehutanan seperti IUPHH-HA dan Hutan Tanaman Industri (HTI), bisa mengakibatkan konversi hutan primer menjadi sekunder. Bahkan bisa menjadikan hutan menjadi nonhutan, sehingga merusak ekosistem DAS dan menyebabkan longsor dan banjir Walhi menilai, alih fungsi lahan tersebut jika tidak dikendalikan, dan fungsi hutan tidak dipertahankan, maka banjir akan terus terjadi setiap hujan datang. Pemerintah seharusnya mampu mengelola secara komperhensif DAS secara terpadu.

Selain faktor cuaca, Walhi juga menyoroti beban kendaraan yang melebihi tonase jalan. Hal itu memicu bencana, terutama di jalur Padang Solok di Sitinjau Lauik, yang ramai dilewati kendaraan membawa CPO dan batu bara. “Getaran truk-truk besar itu memicu retakan di tebing jalan, namun tidak ada upaya penguatan tebing, sehingga saat hujan, air akan masuk ke retakan-retakan yang ada di sepanjang tebing dan memicu longsor, sebaiknya evaluasi kelas jalan dan jenis kendaraan serta beban kendaraan yang melewati jalur tersebut,” pungkas Uslaini. (Ant)

Lihat juga...