Penggemukan Kerbau, Sediakan Kebutuhan Ritual

Editor: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Usaha penggemukan kerbau yang ditekuni H. Musa di RT 005, RW 03, Bekasijaya, Kota Bekasi, Jawa Barat (Jabar), tergolong unik. Namun demikian, ia mengaku, mendapat keuntungan hingga jutaan dari perawatan hewan memamah biak yang masih termasuk dalam subkeluarga bovinae tersebut.

“Saya hanya melakukan proses penggemukan. Kerbau dibeli dari berbagai wilayah di Jawa Barat, seperti dari Tasikmalaya, Majalengka, Subang atau Purwakarta,” ungkap Musa, saat ditemui Cendana News, di tempat usaha penggemukan kerbau, Senin (17/12/2018).

Dikatakan, penggemukan kerbau berbeda dengan sapi. Kerbau perawatannya lebih khusus, karena kerbau harus mandi dan kerbau air tempat mandi tidak sembarangan. Dalam sehari, bisa empat kali mandi.

Untuk itu, dia mengaku, membuat tempat khusus untuk mandi kerbau dengan kapasitas 14 ekor kerbau. Kolam itu sudah dilengkapi dengan pembuangan air sehingga terjaga kebersihannya. Berbeda dengan sapi, kalau sapi, tambah Musa, mandi bisa disemprot dan tidak harus setiap hari.

H. Musa, pengusaha penggemukan kerbau di Kota Bekasi. Foto: Muhammad Amin

Begitu pun untuk pakan kerbau, papar Musa, kerbau untuk porsi makan jauh lebih besar dibanding sapi. Perbandingannya bisa dua kali lipat. Untuk itu, dalam mengakali, Musa mencampur dengan pakan ampas tahu.

“Kerbau di Kota Bekasi memiliki pasar tersendiri,” tandas Musa.

Menurutnya, tetap bertahan melakukan proses penggemukan kerbau, karena pemesannya rata-rata orang Batak di Kota Bekasi. Misalnya, kerbau untuk kebutuhan ritual upacara kematian atau pernikahan. Bisa pula untuk ritual paranormal.

“Kerbau ini, memiliki pasar tersendiri. Tak jarang paranormal, pesan sampai empat ekor. Kepalanya untuk ditanam atau dibuang di tempat tertentu,” paparnya, sambil menunjuk seekor kerbau yang sudah dipesan kepalanya untuk ditanam di salah satu tempat.

Untuk harga satu ekor kerbau, Musa menjual bervariasi. Mulai dari harga Rp14 juta sampai Rp23 juta per ekor. Kerbau juga dinilai dari tanduk sehingga memiliki nilai jual tertentu.

“Selain ukuran berat kerbau, uniknya, tanduk juga ikut menentukan nilai jual. Biasanya orang Batak, kalau pesan tidak mau kerbau yang sudah terlalu besar. Berbeda jika paranormal, lebih kepada tanduk,” ungkapnya.

Dalam sebulan, dia mengaku, bisa menjual 3 sampai 5 ekor. Terkadang, ucapnya, kerbau yang dirawat di kandang sudah dimiliki orang. Hanya menunggu waktu pemotongan saja.

Musa mengatakan, jika pasar Kota Bekasi sepi, maka dia akan membawa kerbaunya ke pasar hewan di wilayah Purwakarta. Di sana, terangnya, ada pasar hewan terbesar dan banyak berkumpul peternak kerbau dari berbagai daerah. Termasuk dari Jawa Tengah.

Selain kerbau, Musa juga memiliki sapi. Tapi, dia mengaku, tidak terlalu fokus memelihara, karena usaha penggemukan sapi sudah dipegang anaknya. Penggemukan sapi  sendiri, imbuhnya, memiliki pasar tersendiri, misalnya untuk aqiqah atau perayaan Idul Adha.

Lihat juga...