Pengungsi di Gor Labuhan Mulai Keluhkan Kesehatan

Editor: Mahadeva

201

BANTEN – Sejumlah pengungsi yang berada di Gedung Olahraga (GOR) atau lapangan futsal di Kecamatan Labuhan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, mulai mengeluhkan kondisi kesehatannya. Tim medis Disaster Medic Commite (DMC) Rumah Sakit Islam Jakarta, Cempaka Putih, yang tergabung dengan tim medis lain, melakukan pemeriksaan sejak hari kedua pascabencana tsunami. 

Petugas medis di posko kesehatan, dr. Reno Yoviah, menyebut, pasien yang datang merupakan warga terdampak tsunami Selat Sunda, yang rumahnya hancur. Mereka berasal dari sejumlah kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Sejak posko kesehatan dibuka pada 24 Desember, pengungsi memeriksakan berbagai keluhan.

“Hari pertama pengungsi belum mengeluhkan gangguan kesehatan, namun memasuki hari keenam, sejumlah penyakit mulai menghinggapi. Faktor utama, kurangnya sanitasi air di lokasi pengungsian,” terang dr. Reno Yoviah saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (28/12/2019).

Kurang bersihnya lokasi pengungsian, terpantau terjadi hingga dua hari setelah berada di pengungsian. Namun, upaya pembersihan sampah oleh masyarakat, relawan, anggota TNI AL, di posko pengungsian membuat lokasi pengungsian mulai tampak bersih. Tim kesehatan juga mulai menyosialisasikan budaya hidup bersih di lokasi pengungsian. Petugas medis disebutnya, harus berkali-kali mengingatkan para orangtua untuk tidak merokok di lokasi pengungsian.

“Kami harus melakukan sosialisasi agar area GOR yang dipakai untuk pengungsian jangan digunakan untuk merokok, karena banyak anak-anak di lokasi pengungsian,” tambah dr. Reno Yoviah.

Pengungsi anak anak dihibur oleh relawan SCC KAMMI Banten dan sejumlah kota lain – Foto Henk Widi

Selama posko dibuka, hingga Jumat (28/12/2018) pengungsi di di lapangan futsal Kecamatan Labuhan, berjumlah 552 jiwa, dengan balita 61 orang, lansia 55 orang. Sejak 24 Desember, pengungsi yang berobat mengeluhkan gangguan Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), hipertensi, demam, dan kelainan kulit. Sesuai rekapitulasi harian, rata-rata pasien yang berobat berjumlah sekira 60 hingga 80 orang.

Posko kesehatan telah merujuk tiga pasien, diantaranya ibu hamil, pasien TBC, dan diare ke fasilitas kesehatan. Pasokan obat-obatan, sebagai buffer stock selama pengungsian berasal dari Disaster Medic Commite (DMC) Rumah sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Kemudian dari donasi lembaga-lembaga, warga dan organisasi yang memperhatikan kesehatan pengungsi.

Selain penanganan kesehatan, anak-anak di pos pengungsian GOR Kecamatan Labuhan, yang jumlah ratusan orang, mendapat pendampingan trauma healing dari relawan. Yang melakukan pendampingan salah satunya dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim (KAMMI) Banten. Tim yang tergabung dalam unit Social Service Centre (SCC), menggelar kegiatan sehari tiga kali, pagi, siang dan sore. Melalui trauma healing, anak-anak bisa mendapatkan semangat.

“Kegiatan menari, tebak suara, games dan beberapa gerakan tubuh, untuk membantu melupakan kejadian tsunami, dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa seperti kegiatan sekolah,” tandas salah satu relawan, Siti Aminah.

Baca Juga
Lihat juga...