Pengusaha Kuliner Tradisional Keluhkan Sulitnya Memperoleh Elpiji

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha kuliner skala kecil di wilayah Bakauheni Lampung Selatan (Lamsel) mulai sulit memperoleh gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram.

Herni, salah satu pemilik usaha warung makan berkonsep serba sepuluh ribu (Serbu) mengaku, sejak sepekan terakhir sulit memperoleh gas elpiji.

Ia bahkan harus membeli gas elpiji di wilayah Ketapang akibat sejumlah pengecer di wilayah tersebut tidak memiliki stok gas elpiji subsidi. Stok yang masih disediakan di antaranya gas non subsidi ukuran 5,5 kilogram dan ukuran 12 kilogram.

Herni menyebut, akibat sulitnya memperoleh bahan bakar elpiji ukuran 3 kilogram tersebut, ia bahkan harus mempergunakan kayu bakar.

Proses memasak dilakukan dengan menggunakan tungku sementara waktu, menunggu pasokan gas di sejumlah pengecer. Ia bahkan sempat mempergunakan tabung gas elpiji nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram dengan harga Rp75.000 per tabung.

Di sejumlah pengecer harga tabung elpiji ukuran 3 kilogram dijual Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram.

“Sepekan terakhir kami kesulitan memperoleh gas elpiji subsidi ukuran 3 kilogram, karena pasokan dari pangkalan dikurangi. Sementara kebutuhan dari sejumlah warung cukup banyak,” terang Herni, salah satu pemilik usaha warung makan di Jalan Lintas Timur Sumatera Bakauheni saat ditemui Cendana News, Selasa (11/12/2018).

Herni menyebut, di Bakauheni ada sekitar lima hingga enam pengecer yang dikirim tabung gas oleh agen. Namun dalam sepekan terakhir, hanya ada beberapa pengecer yang memiliki stok. Sejumlah pengecer yang masih memiliki stok, rata-rata langsung diserbu konsumen.

Kebutuhan gas elpiji ukuran 3 kilogram disebut Herni bisa dipergunakan selama tiga hari dan ukuran 5,5 kilogram bisa digunakan selama dua pekan.

Sumarni, salah satu pemilik usaha kuliner soto ayam mengganti tabung gas ukuran 3 kilogram – Foto Henk Widi
Lihat juga...