Peran Keluarga Bentuk Kekuatan Pilar Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Peran perempuan dalam ketahanan keluarga sangat signifikan membentuk kekuatan bangsa.

Perempuan terutama kaum ibu memiliki andil besar dalam tumbuh kembang anak, baik secara fisik, psikis maupun psikososial. Kaum ibu juga menjadi manajer dan penjaga keutuhan, kehormatan dan ketenteraman rumah tangga, serta menjadi kontributor ekonomi keluarga.

“Peran ibu yang optimal menyumbangkan kekuatan, kestabilan dan ketangguhan pada keluarga. Konsistensi keluarga membentuk pilar-pilar kokoh bagi kekuatan suatu bangsa,” ujar Ketua Komisi Perempuan Remaja dan Keluarga, Majelis Ulama Indonesia (PRK MUI), Azizah, pada konferensi pers di gedung MUI Pusat, Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Menurutnya, ketahanan keluarga yang kokoh, saat ini mendapat tantangan yang besar dari masyarakat. Seperti kasus bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, pada Mei 2018 lalu, sangat mengejutkan. Karena seorang ibu membawa semua anaknya dalam aksi tersebut.

Selain radikalisme, sebutnya, perceraian juga menjadi momok ketahanan keluarga. Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama pada tahun 2010 menyatakan, bahwa dari 2 juta orang yang menikah setiap tahun, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian, dan jumlahnya selalu meningkat. 70 persen penggugat cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Selanjutnya, kata dia, fenomena keroposnya ketahanan keluarga juga terlihat pada remaja. KPAI merilis bahwa 70 persen kasus LGBT disebabkan karena lingkungan.

Menjamurnya video-video artis luar negeri merupakan model yang mudah diimitasi remaja. “Remaja kita beragama Islam, namun gaya hidupnya jauh dari tuntunan Islam. Alih-alih melantunkan hafalan Al-Qur’an, lidah remaja muslim Indonesia lebih fasih menyanyikan lagu hit Black Pink,” ujar Azizah.

Lebih lanjut, ia menyebutkan, masalah kesehatan juga menggerogoti ketahanan keluarga. ASEAN Milenium Development Goals (MDGs) tahun 2017 menunjukkan, pada tahun 2015 angka kematian ibu saat melahirkan mencapai 305 per 100.000 kelahiran. Posisi ini tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Laos, yakni 357 per 100.000 kelahiran.

Terkait masalah tersebut, menurutnya, PRK MUI berkepentingan untuk mendorong terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia melalui penguatan dan optimalisasi peran perempuan secara berkesinambungan. Dalam membangun keutuhan keluarga yang berlandaskan pada ajaran Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

“Komisi PRK-MUI merasa perlu melakukan langkah strategis untuk meningkatkan penguatan ekonomi, hukum, sosial, pendidikan dan dakwah bagi perempuan,” tegasnya.

Karena itu, sebut dia, ketahanan keluarga menjadi salah satu pilar terwujudnya ketahanan nasional. Untuk itu, Komisi PRK MUI akan mengadakan Kongres Muslimah Indonesia bertajuk ‘Ketahanan Keluarga dalam Membentuk Generasi Berkualitas di Era Globalisasi’.

Kongres ke 2 ini akan digelar di Hotel Grand Cempaka pada 17-19 Desember 2018. “Insyaallah kongres muslimah dibuka oleh Ketua Umum MUI, KH Ma’ruf Amin, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani,” tutupnya.

Lihat juga...