Perbaikan Tanggul Way Pisang Terkendala Alat Berat

Editor: Mahadeva WS

159

LAMPUNG – Hujan deras yang mengakibatkan meluapnya sungai Way Pisang, pada Sabtu (1/12/2018) lalu, masih menyisakan kerusakan, pada tanggul penangkis di Dusun Rantau Makmur, Desa Sukabakti.

Vani – Foto Henk Widi

Vani, operator ekskavator, yang melakukan perbaikan menyebut, pengerjaan sudah dilakukan sejak Rabu (5/12/2018) lalu. Pekerjaan dilakukan di pintu bekas air STA 1+200 yang jebol. Perbaikan terkendala ekskavator yang kecil, sementara tanggul memiliki ketinggian sekira empat meter. Fokus perbaikan adalah, membuka pintu air, dan mengeluarkan air yang merendam lahan pertanian. Namun tanggul yang tinggi, tidak sebanding dengan jangkauan alat pengeruk yang terlalu pendek.

Saat ini pekerjaan dihentikan, menunggu kedatangan alat berat yang lebih besar. Perbaikan kerusakan dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS MS). Tanggul yang jebol panjangnya delapan meter, sudah mulai ditimbun dengan perbaikan saluran pipa, untuk membuang air. Jangkauan yang terbatas pada bagian lengan (arm) dan pengeruk (bucket) ekskavator, membuat pengerukan tanah tidak bisa dilakukan secara maksimal.

“Rencananya akan ditutup permanen, sementara dibuatkan saluran khusus, karena air luapan sungai Way Pisang masih menggenangi lahan pertanian hingga ketinggian dua meter, dan kini sudah mulai surut,” terang Vani, Sabtu (8/12/2018).

Alat yang kecil, membuat proses pekerjaan menjadi molor, tidak sesuai waktu yang dijadwalkan. Ekskavator, normalnya bisa menyelesaikan pekerjaan selama dua hari. Namun, hingga hari keempat, perbaikan tanggul belum selesai. Tumiran, salah satu warga Dusun Rantau Makmur, Desa Sukabakti, mengaku senang dengan cepatnya respon pihak terkait. Tanggul penangkis pada bagian bekas saluran air membuat air meluap ke lahan pertanian milik warga.

Akses jalan di tanggul Way Pisang penghubung Desa Sukamulya dan Desa Pematangbaru Kecamatan Palas Lampung Selatan belum diperbaiki – Foto Henk Widi

Akibat luapan sungai Way Pisang, pada STA 1+200, petani mengalami kerugian sangat besar. Tumiran mengaku, mengalami kerugian hingga Rp7juta. Rata-rata, setiap petani mengalami kerugian hingga jutan rupiah. “Saat musim menanam padi kami masih bisa memperoleh air menggunakan sistem pompa, tetapi saat tanggul sungai jebol justru petani mengalami kerugian,” terang Tumiran.

Seperempat hektare lahan yang sudah ditanami jagung, sayur kacang panjang, bayam, sawi dan kedelai, sudah tidak bisa dipanen. Berbeda dengan kerusakan di tanggul penangkis STA 1+200, kerusakan di jalur penghubung Desa Sukamulya ke Desa Pematang Baru, belum diperbaiki. Kerusakan cukup parah, berimbas talud jalan jebol, tanggul penangkis bersama karung berisi pasir hanyut, dan jalan aspal mengelupas.

Baca Juga
Lihat juga...