Permintaan Benih Ikan di Lamsel, Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pemilik usaha pembenihan atau penyedia bibit ikan air tawar di Lampung Selatan, banjir pesanan, seiring masuknya musim penghujan. Ubad, salah satu pemilik usaha pembenihan ikan nila dan gurami, di Desa Palas, menyebut, permintaan benih meningkat dibandingkan saat musim kemarau.

Mudahnya pasokan air saat hujan, membuat sejumlah pemilik kolam ikan mulai memanfaatkan lahan untuk budi daya ikan air tawar. Sehingga permintaan benih ikan pun meningkat, antara lain berasal dari pemilik kolam di wilayah Lampung Selatan hingga Pringsewu.

Pada musim kemarau, permintaan benih ikan nila dan gurami, sebagian berasal dari wilayah yang dekat Gunung Rajabasa dan Sungai Way Pisang. Persediaan air yang bisa dipasok sepanjang hari, di antaranya memanfaatkan mesin pompa, masih tetap stabil meski tidak sebanyak musim hujan.

Permintaan benih ikan nila dan gurami. Pada musim kemarau sebanyak 500 hingga 4.000 benih per bulan. “Lokasi tempat budi daya memadai dengan sumber air dari sumur bor, membuat usaha pembenihan masih bisa berjalan, meski permintaan turun saat musim kemarau,” beber Ubad, saat ditemui Cendana News, Selasa (11/12/2018).

Saat musim kemarau, produksi benih bervariasi. Ikan air tawar yang bisa dipanen saat usia 6 hingga 8 bulan tersebut kerap dibudidayakan dengan sistem pemilahan. Sebab, dengan budi daya kolam tanah secara tradisional, proses pembesaran ikan kerap tidak seragam. Ikan yang masih berukuran kurang dari 250 gram kerap harus dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran 1 kilogram, dengan harga Rp30.000 per kilogram.

Saat musim hujan, permintaan benih ikan nila dan gurami bisa berkisar 5.000 hingga 10.000 benih. Permintaan tersebut kerap diminta oleh pembudidaya ikan nila dan gurami yang akan memanen ikan jelang akhir tahun.

Permintaan akan ikan jelang akhir tahun hingga memasuki awal tahun baru, diiringi dengan regenerasi benih baru pada kolam. Benih ikan nila dijual seharga Rp200 per ekor dan ikan guram Rp500 per ekor dengan ukuran 5 cm.

“Permintaan akan benih ikan nila dan gurami, tinggi, karena banyak yang akan menguras kolam mengganti dengan benih baru sekaligus penghujan pasokan air lancar,” beber Ubad.

Berbeda dengan pemilik usaha pembenihan ikan yang banjir permintaan. Pemilik usaha budi daya ikan lele sangkuriang di Kecamatan Penengahan, Palas dan Ketapang, justru menunda penjualan ikan untuk kebutuhan tahun baru.

Slamet, salah satu pembudidaya ikan lele Sangkuriang, mengaku melihat peluang permintaan akan ikan jelang tahun baru. Tradisi makan bersama dengan menu ikan membuatnya memelihara ikan lele sistem mundur.

Menurutnya, sistem mundur memperhitungkan waktu panen ikan lele maksimal empat bulan. Sekitar bulan September, Slamet menebar sekitar 5.000 benih di tiga kolam.

Kolam berukuran 2 x 4 meter diisi masing-masing 2.000 serta 3.000 ekor dan sebagian kolam khusus untuk tempet penyortiran. Pada akhir Desember seperti tahun sebelumnya, ikan akan dipanen untuk memenuhi kebutuhan para pengepul ikan.

“Sudah banyak yang pesan, namun sengaja saya tahan dan tunda proses panennya jelang tahun baru, menyesuaikan permintaan yang tinggi,” beber Slamet.

Ia menyebut, pada kolam yang ditebar benih sekitar 3.000 ekor, ia berhasil memanen sekitar dua kuintal. Ukuran ikan yang siap dijual disebutnya per kilogram berisi delapan ekor ikan lele.

Ikan yang sudah dipanen, selanjutnya akan dipisahkan menyesuaikan ukuran untuk didistribusikan satu pekan sebelum pergantian tahun. Selain didistribusikan bagi pedagang pengecer, ia mengaku memenuhi permintaan pelanggan langsung ke kolam.

Harga ikan lele saat ini berkisar Rp20.000 per kilogram untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

 

milik usaha pembenihan atau penyedia bibit ikan air tawar di Lampung Selatan, banjir pesanan, seiring masuknya musim penghujan.

Mudahnya pasokan air saat hujan, membuat sejumlah pemilik kolam ikan mulai memanfaatkan lahan untuk budi daya ikan air tawar. Sehingga permintaan benih ikan pun meningkat, antara lain berasal dari pemilik kolam di wilayah Lampung Selatan hingga Pringsewu.

Pada musim kemarau, permintaan benih ikan nila dan gurami, sebagian berasal dari wilayah yang dekat Gunung Rajabasa dan Sungai Way Pisang. Persediaan air yang bisa dipasok sepanjang hari, di antaranya memanfaatkan mesin pompa, masih tetap stabil meski tidak sebanyak musim hujan.

Permintaan benih ikan nila dan gurami. Pada musim kemarau sebanyak 500 hingga 4.000 benih per bulan. “Lokasi tempat budi daya memadai dengan sumber air dari sumur bor, membuat usaha pembenihan masih bisa berjalan, meski permintaan turun saat musim kemarau,” beber Ubad, saat ditemui Cendana News, Selasa (11/12/2018).

Ubad, salah satu pemilik usaha pembenihan ikan nila, mujair dan lele di desa Mekarmulya, kecamatan Palas, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Saat musim kemarau, produksi benih bervariasi. Ikan air tawar yang bisa dipanen saat usia 6 hingga 8 bulan tersebut kerap dibudidayakan dengan sistem pemilahan. Sebab, dengan budi daya kolam tanah secara tradisional, proses pembesaran ikan kerap tidak seragam. Ikan yang masih berukuran kurang dari 250 gram kerap harus dibesarkan lagi hingga mencapai ukuran 1 kilogram, dengan harga Rp30.000 per kilogram.

Saat musim hujan, permintaan benih ikan nila dan gurami bisa berkisar 5.000 hingga 10.000 benih. Permintaan tersebut kerap diminta oleh pembudidaya ikan nila dan gurami yang akan memanen ikan jelang akhir tahun.

Permintaan akan ikan jelang akhir tahun hingga memasuki awal tahun baru, diiringi dengan regenerasi benih baru pada kolam. Benih ikan nila dijual seharga Rp200 per ekor dan ikan guram Rp500 per ekor dengan ukuran 5 cm.

“Permintaan akan benih ikan nila dan gurami, tinggi, karena banyak yang akan menguras kolam mengganti dengan benih baru sekaligus penghujan pasokan air lancar,” beber Ubad.

Berbeda dengan pemilik usaha pembenihan ikan yang banjir permintaan. Pemilik usaha budi daya ikan lele sangkuriang di Kecamatan Penengahan, Palas dan Ketapang, justru menunda penjualan ikan untuk kebutuhan tahun baru.

Slamet, salah satu pembudidaya ikan lele Sangkuriang, mengaku melihat peluang permintaan akan ikan jelang tahun baru. Tradisi makan bersama dengan menu ikan membuatnya memelihara ikan lele sistem mundur.

Menurutnya, sistem mundur memperhitungkan waktu panen ikan lele maksimal empat bulan. Sekitar bulan September, Slamet menebar sekitar 5.000 benih di tiga kolam.

Kolam berukuran 2 x 4 meter diisi masing-masing 2.000 serta 3.000 ekor dan sebagian kolam khusus untuk tempet penyortiran. Pada akhir Desember seperti tahun sebelumnya, ikan akan dipanen untuk memenuhi kebutuhan para pengepul ikan.

“Sudah banyak yang pesan, namun sengaja saya tahan dan tunda proses panennya jelang tahun baru, menyesuaikan permintaan yang tinggi,” beber Slamet.

Ia menyebut, pada kolam yang ditebar benih sekitar 3.000 ekor, ia berhasil memanen sekitar dua kuintal. Ukuran ikan yang siap dijual disebutnya per kilogram berisi delapan ekor ikan lele.

Ikan yang sudah dipanen, selanjutnya akan dipisahkan menyesuaikan ukuran untuk didistribusikan satu pekan sebelum pergantian tahun. Selain didistribusikan bagi pedagang pengecer, ia mengaku memenuhi permintaan pelanggan langsung ke kolam.

Harga ikan lele saat ini berkisar Rp20.000 per kilogram untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Lihat juga...