Pertahankan Lumbung Beras, Petani di Tabanan Gunakan Pupuk Organik

TABANAN  – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Bali, Nyoman Budana, mengapresiasi respons masyarakat petani setempat dengan menggunakan pupuk organik dalam mempertahankan wilayah setempat sebagai kabupaten “lumbung beras”.

“Di tengah kemajuan teknologi pertanian saat ini, memang berbagai tantangan dihadapi para petani dalam bercocok padi, termasuk juga penggunaan pupuk,” kata Budana di  sela “Festival Pertanian Arsa Buwana” di Subak Peselatan, Desa Belulang, Tabanan, Bali, Sabtu.

Saat ini, pemerintah terus mendorong kepada para petani untuk menggunakan pupuk organik, dengan harapan kontur tanah dan habitatnya bisa kembali lestari, karena kebangkitan kesadaran masyarakat dalam menggunakan pupuk organik patut diapresiasi.

Selama ini, petani menggunakan pupuk anorganik sehingga dampaknya akan membuat habitat yang selama ini menjadi ekosistem di sawah bisa punah, seperti binatang belalang, belatuk, dan ular sawah.

“Yang terjadi selama ini dalam sektor pertanian dengan menggunakan pupuk anorganik tersebut ada beberapa ekosistem mengalami punah, sebab bahan kimia yang terkandung dalam pupuk anorganik secara perlahan-lahan akan memutus mata rantai ekosistem di sawah,” ujarnya.

Pupuk anorganik tersebut, kata Budana, berdampak juga terhadap kesuburan tanah dan kandungan tanah itu, karena akan menghilangkan zat-zat tanah yang merusak kesuburan tanah itu akibat tanah kehilangan kandungan zat subur.

Dengan pupuk organik, kata dia, justru mengembalikan zat-zat kandungan tanah yang subur, menjadi lebih subur, sebab dengan proses alami tersebut akan membangkitkan kandungan tanah.

“Jadi, mikroba pengurai kesuburan dalam tanah itu pun akan bisa hidup, sebab rangsangan pupuk organik menyebabkan tanah itu kembali subur,” ucapnya.

Budana mengapresiasi ada lembaga yang peduli dengan keberadaan sawah di Bali, khususnya di Kabupaten Tabanan dengan mengajak masyarakat petani bangkit kembali menggunakan pupuk organik.

“Langkah yang dilakukan oleh lembaga peduli lingkungan, khususnya berkaitan dengan pupuk organik dan sistem bertani secara efektif yang bisa menghasilkan panen dua kali lipat dari sebelumnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Komunitas Organik Indonesia, Cristoper Emil Jayanata, mengajak masyarakat petani Subak Peselatan, Belulang untuk mengubah pola pikir dalam penanaman padi, serta tidak lagi menggunakan pupuk anorganik (urea) dan pestisida.

Selain itu, Emil Jayadinata, mengajak pula masyarakat petani tersebut tidak lagi seusai panen membakar jeraminya, melainkan menjadikan sawah selaras alam (SSA).

“Metode yang kami gunakan dalam SSA adalah dengan ‘System of Rice Intensification Organic (SRI)’ dan mulai diterapkan pada pengolahan persiapan lahan, penyemaian hingga penanaman dan pemeliharaan,” ujar Emil Jayadinata didampingi Klian (Ketua) Subak Peselatan, Belulang Jro Nyoman Suartana.

Dalam program yang diselenggarakan SSA tersebut, diawali dengan mengubah pola pikir masyarakat. Para petani membangun  komitmen menggunakan pupuk anroganik menjelang penanaman padi, termasuk juga dalam pemeliharaannya tidak lagi menggunakan pestisida.

“Percontohan pada SSA ini sudah diawali dengan penyiapan lahan seluas 45 are. Dari pola tanam tersebut sudah menunjukkan hasil yang baik, mulai dari tanaman padi yang ditanam tumbuh batangnya dua kali lipat lebih. Ini artinya hasil panen yang diharapkan akan melebihi dari panen sebelumnya,” ucapnya.

Secara terpisah, Klian Subak Paselatan, Belulang Jro Nyoman Suartana, berharap, dengan metode dan sistem tanam padi ini akan dapat menghasilkan panen lebih meningkat ke depan.

“Dari percontohan ini sudah menunjukkan hasil yang sangat bagus. Oleh karena itu ke depan diharapkan kepada petani akan mengikuti pola seperti ini. Bahkan dari nilai hasil, bahwa beras organik harganya lebih mahal. Dan masyarakat pun saat ini juga mencari makanan-makanan dengan sitem organik, salah satunya beras,” ucapnya.

Oleh karena itu, kata Jro Suartana, metode SSA ini ke depan akan dapat membangkitkan semangat petani, khususnya di Kabupaten Tabanan untuk mempertahankan sebagai kabupaten “lumbung beras” di Bali dengan hasil organik.

Senada dengan itu, Camat Penebel, IGA Supartiwi, mendukung gerakan kelompok petani di Subak Peselatan untuk menerapkan pertanian dengan metode SSA. Karena dengan metode ini ke depan hasil pertanian akan meningkat dan masyarakat akan lebih sejahtera.

“Saya mendukung upaya-upaya yang dilakukan kelompok petani di subak ini. Sehingga bisa menghasilkan pertanian organik. Jika ini dilakukan oleh semua petani, saya yakin wilayah Tabanan akan menjadi kabupaten organik dalam pertanian,” ujarnya.

Kegiatan festival tersebut juga didukung oleh masyarakat Desa Belulang, Aliksa Organik, TeloBag, Khaya-Eco Fashion, Gapet-Indonesian Authentic Cuisine dan Daurie Bintang. (Ant)

Lihat juga...