hut

Pertanian Organik, Prospektif di Desa Reroroja NTT

Editor: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Desa Reroroja berjarak sekitar 30 kilometer arah barat Kota Maumere. Berjarak tempuh sekitar setengah jam menggunakan sepeda motor. Hampir sebagian besar masyarakatnya hidup dari bertani sawah lahan basah dan juga lahan kering.

Saat musim panas, para petani terpaksa menggunakan pompa air untuk mengairi sawah dan tanaman hortikultura lainnya. Bila tidak mampu membeli pompa dan membuat sumur bor, lahan dibiarkan saja sambil menunggu musim hujan dan debit air di saluran irigasi cukup.

“Menjadi petani adalah pilihan hidup dan kondisi alam menjadi tantangan yang harus terus disikapi dengan semangat,” sebut perempuan petani asal desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Marta Aviani, Senin (17/12/2018).

Ibu 4 anak ini, menjalani hidup kesehariannya dengan tak henti-hentinya bertani. Walau berhari-hari belakangan ini hanya bisa merindukkan hujan yang tak kunjung tepat waktu. Dia pun tetap tak putus asa mengajak petani bercocok tanam secara organik.

Maria Aviani, petani dan kader tani Wahana Tani Mandiri di Desa Reroroja Kecamatan Magepanda Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

“Sejak bergabung di Wahana Tani Mandiri (WTM) saya mulai sadar dan mengembangkan pertanian organik. Saya tertarik dengan apa yang disampaikan WTM dan bergabung tahun 2015,” terangnya.

WTM datang dengan kampanye organik. Hal ini membuat Aviani mengaku penasaran dan ingin mencoba. Rasa ingin mencoba itu telah menjadi nyata. Sampai saat ini, dirinya pun terus berkampanye pentingnya tanaman organik yang lebih baik dari unsur kimia.

“Saya bersyukur, sampai saat ini, 9 orang anggota kelompok tani Se Ate (Sehati bahasa Lio) di Reroroja yang saya dampingi menerapkan pertanian organik,” katanya. Lebih dari itu, ketika mendatangi atau bersama petani lain, dalam diskusi atau cerita pertanian, dirinya memang selalu menyosialisasikan pertanian organik.

“Saya juga mendatangi keluarga saya yang telah lama bertani menggunakan bahan kimia. Mereka pun perlahan mencoba dan merasakan hasil yang lebih baik. Akhirnya ada yang mulai meninggalkan kimia dan beralih ke organik,” terangnya.

Bersama kelompok Se Ate, Aviani mengingatkan petani agar memanfaatkan peluang usaha dengan kondisi alam di Reroroja. Ia terus memotivasi petani di sejumlah kelompok untuk menanam kacang dan sayur.

“Tak hanya itu, saya juga melakukan sendiri di kebun. Setelah panen padi, saya tanam kacang hijau. Ini dilakukan di sela-sela waktu mendampingi petani,” kata kader tani WTM ini.

Anomali iklim bukan hal baru di Sikka. Karena sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Namun kondisi alam NTT yang sejatinya adalah daerah kering dengan hujan yang minim, tetap bukan menjadi alasan untuk bertani.

“Tidaklah elok kita menghujat alam. Yang perlu dibangun adalah kesadaran untuk bersahabat dengan anomali iklim itu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mestinya membuat petani kita mampu menghadapi dengan cara yang juga baru,” tuturnya.

Di saat terjadi kekeringan panjang, Aviani memotivasi petani dampingan untuk melakukan pengalihan tanam. Ketika tidak memungkinkan untuk tanam padi, petani Se Ate menanam kacang-kacangan yang lebih tahan terhadap iklim tertentu.

“Tanaman kacang hijau memiliki kemampuan adaptasi yang baik saat kemarau dan produksi bijinya juga lebih tinggi saat musim kemarau. Kemampuan fiksasi unsur nitrogen di dalam tanah adalah kunci keberhasilan tanaman jenis kacang-kacangan. Untuk tumbuh subur di setiap musim termasuk musim kemarau,” jelasnya.

Kacang hijau pun bisa bertahan hidup, meskipun tidak dilakukan penyiraman hingga masa panen. Itu yang dipahami dan diupayakan agar dilakukan petani dampingan sebagai salah satu upaya ketahanan pangan.

Atas kondisi alam yang memprihatinkan tersebut, Marta Aviani mengaku, sampai saat ini belum ada bantuan dari desa untuk kelompok yang didampingi. Tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat petani untuk terus bertani.

“Kelompok bisa hidup dan maju tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah. Semangat itulah yang membuat kelompok Se Ate terus bertahan sampai saat ini,” tegasnya.

Terus mendampingi petani di sela-sela kesibukan sebagai seorang petani, perlahan tapi pasti, menuai hasil baik. Dari dunia pertanian dirinya berhasil menyekolahkan anak.

“Dua orang anak saya sudah berkeluarga, sementara dua lagi saat ini masih di bangku sekolah, “ ungkapnya.

Dari usaha Aviani memfasilitasi, baik teknis maupun manajemen, sangat dirasakan oleh petani kelompok Se Ate. Pesannya cukup sederhana, jangan salahkan musim dan jangan juga duduk diam.

“Sebagai petani kita jangan duduk diam dan menyalahkan musim. Jangan menuntut pemerintah yang tak kunjung datang. Karena roda kehidupan terus berputar, maka kita harus tetap ke kebun dan mereka akan datang pada kita,” pungkasnya.

Lihat juga...