Pertengahan Desember, Mekarsari Panen Rambutan

Editor: Mahadeva WS

174

JAKARTA – Siapa yang tidak kenal dengan buah, yang memiliki ciri khas, berambut, berwarna merah dan memiliki daging buah manis berwarna putih. Yup, buah rambutan.

Rambutan, termasuk sebagai salah satu tanaman musiman dan asli Indonesia. Pertengahan Desember ini, koleksi rambutan di Taman Buah Mekarsari, akan memasuki masa panen. Saat ini  ada sekira 23 jenis rambutan di Taman Buah Mekarsari. Tanamannya, tersebar di tiga area kebun. Panen rambutan akan dilakukan di minggu ke dua bulan Desember.

“Ada 900 pohon totalnya. Tapi yang paling banyak itu adalah jenis binjay. Rata-rata pohon disini sudah berumur sekitar 20 tahun. Rambutan ini termasuk tanaman awal di Mekarsari,” kata Staf Produksi Kebun, Taman Buah Mekarsari, Anna Sartika Hutapea, kepada Cendana News di Area Perkebunan Rambutan Blok A, Taman Buah Mekarsari, Sabtu (8/12/2018).

Rambutan jenis Binjay, yang berasal dari Sumatera Utara, memiliki banyak peminat. Daging buah yang tebal, berair, lekang dan rasa yang manis menjadi pendorong orang menyukai rambutan Binjay. “Tercatat, rasa manis dari rambutan Binjau, mencapai 20-23 derajat kemanisan. Kulit buahnya juga gampang dibuka. Bulu rambutannya juga tidak terlalu panjang,” ujar Anna.

Rasa manis yang hampir sama, juga bisa ditemukan di jenis Si Macan. Jenis rambutan tersebut, memiliki jenis bulu yang panjang, dan kulit buah yang lebih tebal. Daging buahnya juga tebal, tapi memiliki bentuk yang lebih lonjong dibandingkan jenis Binjay. Jenis rambuan lain, yang ada di Taman Buah Mekarsari antara lain adalah Aceh Lebak, Aceh Pelat, Rafiah, Garuda, dan Si Koneng.

“Tiap-tiap jenis memiliki kekhasan masing-masing yang terlihat dari tampilan buahnya. Seperti bulunya yang pendek atau panjang, ketebalan kulit buah, warna buah, ketebalan daging buah, tingkat kandungan air dalam daging buah hingga rasa manisnya,” papar Anna.

Setiap rambutan, akan panen sekali dalam setahun. Jika menggunakan bibit biji, proses berbuah baru akan dimulai pada tahun ke lima setelah penanaman. Tapi jika menggunakan sistem cangkok atau okulasi, maka dalam waktu dua hingga tiga tahunm sudah bisa berbuah. “Sistem vegetatif akan lebih unggul dalam segi produktif, tapi untuk ketahanan tanaman, sistem generatif akan jauh lebih unggul. Kenapa vegetatif lebih unggul dari segi produktif? Karena kita bisa memilih hasil buahnya dari pemilihan cabang yang dicangkok atau diokulasi. Kalau yang generatif atau dengan bibit biji, biasanya hasilnya tidak bisa dipastikan, karena sering ada mutasi genetis,” urai Anna.

Sementara, untuk segi ketahanan dari hama, pengembangbiakan dengan biji memiliki keunggulan lebih tahan. Rambutan, akan mulai berbunga saat akhir kemarau panjang. Dan tiga bulan setelahnya, akan mulai masa panen. “Kalau panennya Desember ini, artinya rambutan mulai berbunga itu sekitar bulan September kemarin. Jadi kalau panas, cahaya matahari akan lebih banyak. Artinya akan mendorong perkembangan fase generatif lebih baik karena fotosintesisnya lebih banyak,” ucapnya.

Pohon rambutan, memiliki masa produktif panjang. Selama tetap dilakukan pemangkasan daun dan ranting setiap kali usai panen, dan memantau pertumbuhan gulma, pohon rambutan akan tetap produktif. “Untuk pemetikan buah, perlu juga diperhatikan. Karena jika salah melakukan pemetikan, maka bekasnya akan menjadi akses untuk jamur masuk, atau akan menjadi kering. Jadi nanti saat pengunjung datang, kita juga akan mengedukasi mereka cara untuk memetik dan memangkas yang baik. Sehingga pohon rambutannya akan tetap produktif di setiap masa panen,” kata Anna.

Beberapa hama yang harus diwaspadai pada pohon rambutan adalah benalu sisik naga atau dolaran, penggerek buah, penggerek batang dan ulat daun. Hama menjadi persoalan yang harus diperhatikan dalam kegiatan budi daya rambutan. Yang paling sering muncul, hama kutu putih, yang tampilannya terlihat seperti sarang laba-laba putih di buah. Tidah berbahaya. Hanya saja, hama tersebut, bisa merubah warna buah menjadi hitam jika dibiarkan dan tidak ditangani.

Untuk menanggulangi hama, di Taman Buah Mekarsari melakukan langkah preventif, dengan menyemprotkan larutan obat. Untuk predator alami, terdapat berbagai jenis burung, yang pernah dilepaskan saat Presiden Soeharto masih aktif sebagai presiden, hingga kini hidup bebas di kebun tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...