Pesisir Selatan Optimis Jadi Lumbung Padi Sumbar

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhortbun) Pesisir Selatan, Sumatra Barat, mengklaim daerahnya layak disebut sebagai lumbung padi, karena tingginya produksi padi.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Jumsu Trisno, mengatakan, besarnya potensi kawasan persawahan di Pesisir Selatan yang bakal memproduksi di sektor pertanian, akan menjadi jaminan bagi masyarakat daerah itu dalam meningkatkan perekonomian.

Menurutnya, supaya hal tersebut tercapai, maka pengelolaan potensi yang ada tersebut harus dilakukan secara maksimal. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi, berupa alat mesin pertanian (alsintan).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Pesisir Selatan, Jumsu Trisno/ Foto: Ist.

“Dengan adanya bantuan dari pemerintah, seperti alsintan itu, maka akan dapat mendorong produksi padi. Hal inilah yang saya maksud, bahwa daerah Pesisir Selatan bisa menjadi lumbung padinya wilayah Sumatra Barat,” katanya, Senin (24/12/2018).

Jumsi Trisno menjelaskan, pada 2016, produksi padi Pesisir Selatan rata-rata per hektare sebanyak 5,01 ton. Pada 2017 mengalami peningkatan menjadi 5,78 ton.

Untuk itu, dengan maksimalnya pengelolaan lahan dengan memanfaatkan teknologi alsintan, bukan saja peningkatan produksi yang bisa tercapai, tapi juga peningkatan terhadap musim tanam.

“Untuk itu, kepada petani diminta agar memanfaatkan sarana ini, agar Pesisir Selatan benar-benar bisa menjadi lumbung pangannya Sumatra Barat di masa datang,” harapnya.

Namun, sambungnya, untuk mencapai harapan itu, petani diminta agar benar-benar serius melakukan penggarapan lahan yang ada, di samping juga mau belajar dan terus belajar, bagaimana cara bercocok tanam yang benar.

Ia menegaskan, sektor pertanian bisa memberikan jaminan terhadap kesejahteraan masyarakat, bila dikelola secara baik dan profesional.

“Apalagi, bila pengelolaannya menggunakan alsintan, selain menghemat waktu, pengerjaannya juga bisa dilakukan dengan capat dan lebih mudah,” katanya.

Ia juga mengatakan, berkat peningkatan produksi rata-rata per hektare itu, produksi padi terus mengalami peningkatan sejak 2016. Pada 2016, produksi padi 270.000 ton, pada 2017 meningkat menjadi 340.000 ton.

“Peningkatan itu juga terjadi pada 2018, yang saat ini masih dilakukan kalkulasinya,” kataJumsu.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, Candra, mengatakan berdasarkan catatan instansinya, hingga awal Desember ini produksi padi telah mencapai 2,8 juta ton lebih.

Jumlah tersebut hampir mendekati target produksi padi Sumatra Barat pada 2018, yakni sebesar 3 juta ton. Apalagi, sepanjang bulan Desember ini, memasuki masa-masa panen di beberapa daerah, sehingga produksi padi diperkirakan akan melebihi target tersebut.

“Soal produksi padi, belum lama ini memang batul ada beberapa daerah di Sumatra Barat yang dilanda banjir sepanjang tahun ini, tapi tidak berpengaruh besar. Karena hanya sebagian kecil sawah yang mengalami puso dengan luas lahan 57 haktare,” ujarnya.

Ia menyebutkan, di antara 57 haktare itu, ada sebagian kecilnya yang mengalami puso, bukan karena bencana alam. Tapi, juga ada disebabkan serangan hama, seperti tikus dan wereng.

Artinya, kerugian yang dialami petani di atas luas lahan 57 haktare, tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap produksi padi di Sumatra Barat pada tahun ini.

Selain 57 haktare lahan yang mengalami puso, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan juga mencatat ada 3.500 lahan pertanian yang mengalami gangguan produksi, akibat adanya pengaruh cuaca.

Hanya saja, 3.500 lahan itu masih bisa dipanen, dan tidak menyebabkan kerugian berarti bagi para petani. Di Sumatra Barat, luas lahan sawah mencapai 225.000 haktare.

“Saya optimis, target produksi padi di Sumatra Barat tahun ini akan tercapai, bahkan berlebih. Ke depan, pada 2019, kita akan terus mengupayakan meningkatkan produksi padi ini,” tegasnya.

Pada 2019 mendatang, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, akan meningkat target produksi padi. Setidaknya dari produksi padi pada 2018, menjadi gambaran untuk bisa lebih meningkatkan terget produksi padi, menuju swasembada pangan.

Upaya tersebut akan diupayakan dengan menerapkan sisten tanam padi jajar legowo. Selama ini, tanam padi jajar legowo belum berjalan dengan baik, dan hanya sebagian kecil petani yang melakukan tanam padi legowo tersebut.

“Dari 225 ribu haktare di Sumatra Barat, diperkirakan baru 32 persen lahan pertanian yang  telah menerapkan sistem tanam jajar legowo. Rendahnya peminat petani untuk menerapkan sistem itu, karena ketidakpahaman keuntungan dengan sistem tanam legowo tersebut,” ujarnya.

Lihat juga...