Petani di Siak Diminta Replanting Pohon Sawit

Batang batang pohon kelapa sawit yang sudah ditebangi untuk diganti dengan tanaman lain yang lebih produktif, ilustrasi -Dok: CDN

SIAK – Petani di Kabupaten Siak, Riau, diminta untuk memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus peremajaan sawit rakyat, yang disediakan pemerintah pusat, melalui kementerian pertanian.

“Ini merupakan tantangan bagi saya untuk memberikan penjelasan, serta mencari tahu masalahnya, sehingga masyarakat di Riau tak mau replanting, sementara uangnya sudah ada,” ujar Bupati Siak, Syamsuar, saat sosialisasi percepatan peremajaan kebun kelapa sawit, di Kabupaten Siak, Senin (`10/12/2018).

Syamsuar menyampaikan, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI, menyediakan dana sebesar Rp5 triliun, yang diperuntukkan bagi peremajaan (replanting) kebun kelapa sawit masyarakat Riau. Namun, disayangkan hingga saat ini pelaksanan program tersebut realisasinya terbilang rendah.

“Program peremajaan kebun sawit sudah disosialisasikan sejak 2012, dengan turun ke desa-desa, guna menyampaikan tujuan replanting. Namun, kurang mendapat sambutan dan perhatian dari masyarakat. Mungkin karena kredit yang mahal atau pascareplanting masyarakat kehilangan pendapatan,” ucapnya.

Ia menambahkan, semestinya program yang sudah disiapkan pemerintah pusat, jangan disia-siakan. Riau salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia, menjadi tujuan pemerintah pusat dalam program KUR khusus Peremajaan Sawit Rakyat.

“Kalau dulu peremajaan kebun sawit persyaratannya cukup ketat, luas lahan harus 300 hektare. Kini, persyaratannya sudah dipermudah pemerintah dengan sesederhana mungkin, tujuannya agar masyarakat segera melakukan peremajaan kebun sawit yang usianya di atas 25 tahun,” terangnya.

Ia meminta camat dan kepala desa (penghulu) untuk mengecek dan mendata kebun sawit milik warga yang usianya di atas 25 tahun, serta melaporkan kepadanya.

“Sengaja saya kumpulkan camat hari ini, untuk mendata jumlah kelapa sawit yang usianya di atas 25 tahun, agar kita bisa mengetahui desa mana saja yang perlu dilakukan peremajaan sawit,” sebut dia lagi.

Syamsuar mengatakan, camat harus bisa menjelaskan kepada warga, bahwa prioritas replanting untuk sawit di atas 25 tahun, serta mendata apakah ada masyarakat yang memiliki kebun sawit yang bibitnya tidak bagus, kemudian sawit di bawah 25 tahun, namun tidak produktif.

“Seluruh camat juga harus menyampaikan kepada warga, bahwa peremajaan bukan hanya untuk sawit plasma saja, namun untuk seluruh kebun sawit termasuk juga petani swadaya,” sambungnya. (Ant)

Lihat juga...