Petanque, Cabor ‘Nostalgia’ Para Bapak dan Ibu

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Cabang olah raga (cabor) jumlahnya sangat banyak. Dari sekian banyak cabor tersebut, ada satu cabor yang tidak banyak diketahui orang, yaitu petanque. Cabor ini tidak hanya unik dari sisi nama, tetapi juga dari pola permainannya yang seperti permainan kelereng. Tidak hanya itu, atlet-atletnya pun didominasi oleh bapak dan ibu guru.

Pelatih Petanque di KONI Banyumas, Suryanto, mengatakan, dari puluhan atlet yang dilatihnya, separuh lebih berprofesi sebagai guru yang usianya sudah tidak lagi muda.

Hal ini juga yang membedakan cabor petanque dengan cabor lain, bahwa di petanque sama sekali tidak ada pembatasan usia atlet, sehingga guru yang sudah berusia 54 tahun pun bisa ikut bertanding.

Pelatih Cabor Petanque, Suryanto -Foto: Hermiana E Effendi

ʺCabor ini memang agak asing dan banyak yang tidak tahu, atletnya juga tua-tua, ada guru yang usianya sudah 54 tahun, dan masih gabung dengan kita,ʺ terangnya.

Permainan diawali dengan salah satu pemain melempar bola kayu (boka) berukuran kecil. Boka tersebut harus dilempar antara jarak 6-10 meter. Setelah itu, pemain harus melempar bola besi (bosi) yang beratnya mulai dari 650 gram hingga 800 gram ke arah boka.

Pemain akan beradu ketepatan bidikan, bosi yang berjarak terdekat dengan boka, itulah yang keluar sebagai pemenang.

Namun, permainan tidak sesederhana yang terlihat. Sebab, para pemain harus beradu strategi untuk mendekati boka. Karena, bosi yang sudah terdekat pun bisa terkena shooting (tembakan) dari lawan, hingga posisinya menjauh dari boka. Di sinilah dibutuhkan konsentrasi dan adu strategi jitu.

Petanque juga membutuhkan fisik yang prima, sebab permainan berlangsung panjang, hingga ke final dalam satu hari bisa enam kali permainan. Dan, dalam satu kali permainan dibutuhkan waktu sekitar dua jam.

ʺBanyak atlet yang usianya sudah tidak lagi muda masih bergabung, karena mereka mencintai petanque. Sebab, cabor ini mengingatkan mereka pada permainan kelereng yang sering dilakukan sewaktu masih kecil. Hanya bedanya, kelereng bolanya kecil, dan petanque bolanya lebih besar dan lebih berat. Jadi, seperti bernostalgia,ʺ jelas Suryanto.

Dalam seminggu, atlet petanque berlatih 3-4 kali. Jika akan menghadapi pertandingan, latihan diintensifkan dua kali lebih banyak dari biasanya.

Lihat juga...