PGN Akuisisi Pertagas Rp20,18 Triliun

Ilustrasi PGN - Foto istimewa

JAKARTA – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, resmi mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas). Nilai akuisisinya sebesar Rp20,18 triliun.

Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso, mengatakan, proses akuisisi sudah mencapai babak baru. Penandatanganan perjanjian jual beli (Sales Purchase Agreement/SPA) saham Pertagas, antara PT Pertamina (Persero) dan PGN sudah dilakukan. ” Jumat ini, PGN mencatat sejarah baru. Kami resmi menjadi subholding gas, karena proses akuisisi Pertagas dan seluruh anak usahanya telah selesai,” katanya usai penandatanganan SPA di Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (28/12/2018).

Penandatanganan disaksikan langsung Deputi Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno. PGN dan Pertagas merupakan anak perusahaan Pertamina. Pascaakuisisi, Pertagas berubah menjadi anak usaha PGN atau cucu usaha Pertamina.

Gigih menyebut, harga pembelian 51 persen Pertagas, yang semula Rp16,6 triliun, berubah menjadi Rp20,18 triliun. Kenaikan nilai akuisisi karena mengikutsertakan pula empat anak usaha Pertagas yakni PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta-Samtan Gas, dan PT Perta Kalimantan Gas. Sebelumnya, saat penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat (CSPA), pada 29 Juni 2018, PGN direncanakan hanya mengakuisisi Pertagas dan anak usahanya, PT Pertagas Niaga saja.

Dalam pekermbangannya, menurut Gigih, para pihak telah melakukan sejumlah proses, di antaranya due diligence, valuasi, dan audit untuk laporan keuangan Pertagas dan seluruh anak perusahaannya. “Alhamdulillah, beberapa tahapan tersebut sudah selesai dan telah mendapatkan persetujuan dari internal PGN dan Pertamina,” jelasnya.

Terkait skema pembayaran pengambilalihan saham Pertagas, PGN akan melakukannya dalam dua tahap. “Tahap pertama sebesar 50 persen dari total harga pembelian atau ekuivalen dengan Rp10,09 triliun, akan menggunakan skema pembayaran tunai. Adapun untuk tahap kedua, perusahaan akan menerbitkan promissory note sebesar 50 persen sisanya,” tuturnya.

Direktur Utama Pertagas, Wiko Migantoro, menambahkan, dengan penuntasan sinergi PGN dan Pertagas, maka proses holding BUMN migas diharapkan dapat mencapai tahapan yang penting. Pensinergian tersebut dianggap telah memperlihatkan sejumlah tujuan yang diamanatkan pemerintah. “Harapan kami, holding BUMN migas ini dapat menciptakan kedaulatan dan ketahanan energi, yang pastinya membawa manfaat untuk masyarakat dan negara,” katanya.

Setelah proses integrasi selesai, Pertamina sebagai holding BUMN migas, mengarahkan PGN selaku subholding gas untuk mengelola bisnis gas secara terintegrasi di Indonesia. “Pertagas akan diintegrasikan sebagai anak usaha PGN, dalam kerangka holding migas sebagaimana ditetapkan dalam PP 6 Tahun 2018,” pungkas Wiko. (Ant)

Lihat juga...