PKK NTB: Pernikahan Usia Anak Penyumbang Stunting

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Hj. Niken Saptarini Widyawati. Foto: Turmuzi

MATARAM — Pernikahan usia anak menjadi salah satu penyebab terjadinya Stunting atau pertumbuhan pendek pada anak. Selain akan berdampak pada kesehatan reproduksi, juga kesiapan mental dan kurangnya pengetahuan mengasuh anak dilahirkan.

“Pernikahan usia anak menjadi salah satu penyumbang tingginya angka stunting di NTB, untuk mencegahnya, Pemprov telah mencanangkan program PUP,” kata Ketua TP PKK NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati di Mataram, Rabu (19/12/2018).

Dikatakan, jumlah rata-rata mencapai 37,2 persen dengan angka tertinggi berada di Sumbawa. Permasalahan stunting di NTB saat ini sangat mengkhawatirkan.

Ia mengharapkan, TP PKK kabupaten kota dapat membantu melakukan pencegahan, melalui sosialisasi, menggandeng kader Posyandu untuk dapat melakukan pemetaan permasalahan di daerah masing-masing, sehingga penanganan akan lebih mudah bisa dilakukan.

“Pelibatan tokoh agama, termasuk organisasi keagamaan perempuan seperti muslimat NU, NW dan Muhammadiyah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai peningkatan usia perkawinan pada anak,” katanya.

Tradisi kawin muda, hukum yang belum berpihak pada anak perempuan sehingga mengakibatkan eksploitasi hukum, serta perubahan tata nilai yang menganggap pernikahan anak menjadi solusi menanggulangi kemiskinan, juga ikut berkontribusi.

Sebelumnya, Ketua Tim Konsultan Integrasi Intervensi Gizi Bappenas, Sunarno Ranu Widjojo menyampaikan, target upaya menekan stunting harus di bawah 20 persen.

Hasil Riset kesehatan dasar Kemenkes menyebutkan, masalah stunting sudah sangat serius ,1 dari 3 Baduta (bawah dua tahun) dan balita mengalami stunting, dan hal ini dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan seperti gagal tumbuh, hambatan perkembangan, hingga gangguan metabolik.

Menurut Sunarno, bayi dengan stunting beresiko mengidap penyakit tidak menular seperti darah tinggi serta diabetes lebih tinggi dari bayi lahir normal.

Ia juga menekankan bahwa, pilar pencegahan stunting salah satunya adalah, adanya komitmen kepala daerah untuk terus berkampanye terkait komunikasi perubahan perilaku, konvergensi dan konsolidasi program, serta pendekatan multisektor dengan menggandeng instansi maupun NGO yang berkecimpung dalam pemberdayaan kualitas hidup masyarakat.

Lihat juga...