Pohon Ramaram dan Seekor Anjing

CERPEN KHAIRUL FATAH

ANGIN berdesir semakin kencang. Sayup-sayup angin itu terdengar berdesau, lalu hilang berganti gemuruh ombak yang menghantam pohon ramaram.

Anjing yang berada di bawahnya dengan tangkas melompat menghindar dari terjangan ombak. Setelah ombak surut, anjing itu turun dari atas pohon ramaram. Matanya menatap jalang pada ombak yang menggelora, dan menjulurkan lidahnya seperti mencibir.

Ombak kembali lagi menghantam pohon ramaram, anjing itu melompat lagi, terus berulang-ulang, hingga membangkitkan adrenalin Santo.

Saat anjing itu melompat untuk yang kesekian kalinya dari atas pohon ramaram, tepat setelah kakinya menyentuh buih bekas hempasan ombak, tiba-tiba ombak yang lebih besar menghantam tubuhnya.

Anjing itu tak sempat mengelak, hingga terseret ombak yang datang secara tiba-tiba. Wajah Santo berubah teduh. Melihat kejadian itu, dengan mata redup dan wajah lesu, ia berlari hendak menolong anjing yang terseret ombak itu.

Santo mencoba menggapai tubuh anjing, ombak besar menerjangnya. Semakin tangannya berusaha mendekati tubuh anjing, semakin besar ombak menghantamnya. Hingga ia terhempas ke bibir pantai. Dengan wajah putus asa, ia duduk menatap anjing yang terseret ombak.

Wajah Santo nampak muram —tergurat kesedihan yang mendalam— saat melihat anjing itu terseret ombak ke tengah laut.

Santo pun pulang dengan berjalan gontai dan pakaian yang basah kuyub, sambil sesekali membalikkan badan: melihat anjing yang terseret ombak ke tengah laut.
***
SETIAP angin datang dari utara, Pulau Malangare selalu resah dengan gelombang yang menggelora. Masyarakat Pulau Malangare menyebutnya sebagai angin pelung, angin yang membuat orang-orang pulau tersebut dirundung kesusahan dan ketakutan. Karena angin pelung dipercaya membawa penyakit yang bisa membuat hewan peliharaan mati.

Masyarakat Pulau Malangare selalu mengaitkan angin pelung dengan kisah orang-orang gila yang berada di Gunung Arkasora.

Konon, sebelum Pulau Malangare terdapat pemukiman, dijadikan sebagai tempat pembuangan orang-orang yang mendapat hukuman dari Kerajaan Songenep yang letaknya tidak jauh dari pulau tersebut. Karena terlalu lama orang yang dihukum di pulau yang sepi itu, akhirnya mengalami gangguan mental, gila.

Semakin hari, semakin banyak orang yang dihukum oleh Kerajaan Songenep. Hingga semakin bertambah pula orang-orang gila di Pulau Malangare.

Setelah raja pertama Kerajaan Songenep wafat, putranya yang terkenal arif dan bijaksana menggantikannya. Dan memindahkan orang-orang gila tersebut ke Gunung Arkasora.

Di sana, mereka mulai membangun tempat permukiman dan membuat ritual menyembah Tuhan Anghin dengan cara menumbalkan salah satu dari mereka untuk mendapat berkah dari tuhannya itu. Hingga semakin hari, semakin berkurang jumlah mereka, dan akhirnya musnah.

Menurut kepercayaan masyarakat Pulau Malangare, apa pun yang datang dari utara, dan melintasi Gunung Arkasora, pastilah berbuah celaka. Seperti angin pelung yang datang tiap tahun.
****
WAJAH-wajah resah nampak bergentayangan di wajah penduduk Pulau Malangare. Ketakutan tergurat jelas di wajah mereka. Ibu-ibu mulai mempersiapkan bekal untuk bertahan hidup di dalam rumah selama sebulan dari petaka angin pelung. Para laki-laki mulai menebang pohon, persiapan untuk memasak selama sebulan.

Sudah menjadi kepercayaan yang mengakar bagi mereka, saat angin pelung datang orang-orang dilarang keluar rumah karena bisa mendapat celaka . Maka, mereka mempersiapkan segala kebutuhan untuk bertahan hidup selama sebulan di dalam rumah.

Setelah mempersiapkan kebutuhan, Maryamah nampak gusar. Ia mondar-mandir di depan pintu rumah. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Tepat di sebelah kanan pintu, Sugeng—suami Maryamah—duduk dengan sebatang rokok di tangan kiri,  dihisapnya sesekali.

“Duduklah dulu, sebentar lagi dia pasti pulang!” kata suami Maryamah pelan dengan kepulan asap yang berhamburan, menyela dari setiap ucapan.

“Kau memang ayah yang tak punya rasah belas kasih. Anak sendiri tak kembali malah enak-enakan ngopi,” kata Maryamah dengan ketus.

“Terus aku harus apa?”

Hening menenggelamkan pertengkaran kecil mereka. Kekhawatiran Maryamah memilih tak meladeni perkataan suaminya. Angin pelung yang mulai datang sejak tadi pagi membuatnya sangat khawatir pada anaknya, karena tak juga kembali. Dengan wajah khawatir, ia menatap tajam jalan setapak depan rumah, berharap wajah anaknya muncul.

Angin pelung berdesir dingin, menyentuh tubuh Maryamah, hingga marasuk ke tulang sumsum. Dingin mulai dirasakan, berbaur dengan kekalutan hati. Suaminya yang duduk di atas kursi dengan kesal berdiri.

Menyisakan derit pada kursi tua itu, ia berjalan menuju halaman. Sampai di pintu pagar rumah yang terbuat dari bambu, senyumnya tersungging.

Lihat juga...