Pohon Resapan Dapat Minimalisir Banjir di Daerah Aliran Sungai

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

136

LAMPUNG — Banjir bandang akibat hujan deras pada Sabtu (1/12/2018) melanda sejumlah kecamatan di wilayah Lampung Selatan . Meliputi Penengahan, Palas, Katibung, Sidomulyo, Kalianda serta sejumlah wilayah lain. Hingga Rabu (5/12) kerusakan masih terlihat di lahan pertanian hingga jembatan jebol.

Harman, warga Desa Pasuruan menyebutkan, luapan air kemungkinan besar karena tidak adanya resapan air di wilayah tangkapan Gunung Rajabasa yang sebagian sudah diubah menjadi lahan pertanian. Sejumlah pohon yang ditebang  diduga menjadi faktor utama.

“Banjir akibat luapan sungai memang bencana alam, tetapi di wilayah Penengahan selama puluhan tahun, baru akhir tahun ini dampaknya cukup merusak dan merugikan, kesadaran mempertahankan pohon di wilayah tangkapan air sepertinya masih kurang,” terang Harman saat ditemui Cendana News di kebun miliknya yang ditumbuhi berbagai jenis pohon peresap air, Rabu (5/12/2018).

Harman menyebut pada sejumlah wilayah terselamatkan karena adanya penahan alami berupa puluhan rumpun bambu, aren, jati dan pinang yang sengaja ditanam oleh warga.

“Pohon penahan tersebut sekaligus menjadi penyelamat bagi sejumlah kebun warga di dekat aliran sungai,” terangnya.

Dampak kerusakan akibat banjir juga melanda DAS Way Pisang yang merupakan salah satu sungai terpanjang di Lamsel. Irwan, warga Desa Sukaraja, Kecamatan Palas mengakui dampak banjir belum separah pada tahun ini.

Irwan, memperlihatkan sampah menumpuk di bendungan Indah Desa Sukaraja, Kecamatan Palas akibat penebangan di bagian hulu sungai Way Pisang berimbas menjadi biang meluapnya sungai Way Pisang pada Sabtu, 1 Desember 2018 silam. Foto: Henk Widi

Luapan sungai Way Pisang sebagian bersumber dari sungai Way Sampang membuat sejumlah talud jebol, lahan pertanian jagung, padi dan tanaman lain rusak.

Ia menyebut parahnya banjir tahun ini terlihat dari banyaknya sampah batang pohon akibat penebangan yang cukup banyak.

“Bukti nyatanya sangat terlihat, pada kondisi banjir biasa pintu air bendungan Indah dipenuhi sampah batang pohon, ranting pohon sisa penebangan di wilayah hulu,” terang Irwan.

Yaspan, warga Dusun Banyuurip Desa Kuripan menyebut pentingnya mempertahankan pohon terlihat di dekat jembatan Way Asahan. Talud jembatan yang jebol imbas luapan sungai bahkan membuat sejumlah batu besar tergerus air.

“Saya berharap ini banjir terakhir yang dampaknya sangat merusak sekaligus menjadi pengingat agar warga tidak membuang sampah di sungai,” terang Yaspan.

Keberadaan pohon resapan air di daerah aliran sungai diakuinya cukup terasa manfaatnya. Di wilayah aliran sungai yang tidak terdampak luapan bahkan air masih lancar dengan beragam pepohonan.

“Kearifan lokal warga menanam berbagai jenis pohon kayu sekaligus penghasil buah membuat banjir bisa diminimalisir,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...