Poktan Penangkar Benih Butuh Tambahan Fasilitas untuk Tingkatkan Produksi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

168

YOGYAKARTA — Sejumlah petani penangkar benih yang ada di Desa Mandiri Benih Plered Bantul mengaku membutuhkan penambahan sejumlah peralatan maupun fasilitas penunjang untuk meningkatkan produksi benih mereka. Sejumlah fasilitas yang ada, baik itu dari bantuan pemerintah maupun swadaya petani, tak mampu lagi untuk meningkatkan jumlah produksi.

Ketua Kelompok Tani Manunggal dusun Tambalan Plered Bantul, Rahmat Wibowo menyebutkan, pihaknya memiliki lahan seluas 35 hektare dengan 45 petani dan saat ini hanya mampu memproduksi lima jenis benih padi hingga mencapai 40-50 ton per sekali tanam. Sebanyak 30 ton benih padi disetor ke perusahaan produsen benih, sementara sisinya dijual sendiri.

“Kita sebenarnya ingin meningkatkan jumlah produksi benih padi yang bisa kita jual sendiri. Namun memang terkendala modal. Sejumlah fasilitas yang kita miliki juga sudah tidak mencukupi lagi,” katanya.

Gudang penyimpanan bantuan pemerintah hanya memiliki kapasitas 15 ton. Sehingga harus gunakan rumah anggota untuk menyimpan benih.

“Lantai jemur dari pemerintah juga hanya seluas 80 meter persegi. Kita sebenarnya sudah membuat sendiri lantai jemur seluas 170 meter persegi. Namun memang masih belum mencukupi,” ujarnya.

Salah satu alat yang juga mendesak dibutuhkan Kelompok Tani Manunggal, adalah dryer atau pengering gabah. Dengan alat ini, proses pengeringan diperkirakan akan menjadi lebih cepat.

Terlebih saat memasuki musim hujan dimana proses pengeringan membutuhkan waktu hingga mencapai 1 minggu, atau lebih lama dibandingkan musim kemarau yang hanya membutuhkan waktu 3-5 hari.

“Dengan dryer tentu proses pengeringan akan lebih cepat. Paling tidak bisa mengamankan benih gabah agar tidak tumbuh. Karena kalau kalau tidak dijemur atau dikeringkan, dalam waktu satu hari saja gabah basah sudah bisa tumbuh, dan tidak bisa dijual,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Tani Manunggal dusun Tambalan Plered Bantul, Rahmat Wibowo. Foto: Jatmika H Kusmargana

Keberadaan program Desa Mandiri Benih di dusun Tambalan desa Plered sendiri dikatakan cukup memberikan manfaat bagi petani. Selain mampu menyerap hasil panen petani benih dengan harga tinggi, adanya kelompok ini juga mampu menghindarkan dari para tengkulak yang biasa membeli benih dengan harga murah.

“Harga jual hasil panen benih gabah kering pungut disini mencapai Rp4.200- 4.600 per kilo. Sementara jika dijual ke tengkulak dengan sistem tebas, hanya dihargai Rp2,2-2,5 juta per 1.000 meter persegi. Padahal jika dihitung petani semestinya dapat hasil hingga Rp3 juta. Jadi ada selisih harga hingga Rp500 ribu per 1.000 meter persegi,” katanya.

Baca Juga
Lihat juga...