Politeknik Caltex Riau Kembangkan Kursi Roda Berbasis Sinyal Otak

Editor: Satmoko Budi Santoso

222

MALANG – Perkembangan teknologi, memunculkan inovasi baru yang diciptakan untuk membantu manusia dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Termasuk membantu penyandang disabilitas agar tetap bisa beraktivitas dengan baik.

Mindy Wheelchair merupakan salah satu inovasi kursi roda berbasis sinyal otak yang tengah dikembangkan oleh tiga orang dosen dan dua orang mahasiswa Politeknik Caltex Riau.

Mereka adalah Amnur Akhyan, S.S.T.,M.T., Putri Madona, S.S.T.,M.T., Yusmar Palapa Wijaya, S.Si.,M.T., Robby Pradana Suhendra dan M. Nurul Fikri.

Fikri menjelaskan, Mindy Wheelchair dibuat karena adanya kebutuhan penyandang disabilitas, khususnya pasien lumpuh pada bagian badan, lengan dan kaki. Sedangkan kursi roda elektrik yang banyak beredar di pasaran masih kendali manual menggunakan lengan.

“Dari situ akhirnya kami coba berinovasi dengan membuat kursi roda berbasis sinyal otak yaitu sinyal RAW yang merupakan kumpulan dari berbagai sinyal di antaranya tetha, delta, alpha, gamma,” jelasnya saat mengikuti pameran Polytexpo di Politeknik Negeri Malang, Selasa (4/12/2018).

Disampaikan, cara kerja Mindy Wheelchair yaitu ketika softwere dijalankan, elektroda akan melakukan akuisisi data mentah sinyal otak user. Selanjutnya, data otak tersebut diolah oleh sensor Neurosky Mindwave hingga mengeluarkan data RAW pada frekuensi 512 Hz dan data sense attention serta meditation pada frekuensi 1 Hz.

“Ketika seseorang konsentrasi penuh pada satu titik, maka level attention akan naik. Levelnya dibuat dari 0-100. Jadi ketika level attention seseorang sudah mencapai angka lebih dari 80, maka kursi roda akan bergerak maju,” terangnya, “Tapi jika level  attention kurang dari 80, maka kursi roda tidak akan bisa bergerak.”

Sedangkan untuk gerakan mundur, digunakan sinyal ketika seseorang rileks (meditation). Kemudian untuk berbelok ke kanan, digunakan kedipan mata sebanyak tiga kali dalam kurun waktu satu detik dan menaikkan kedua alis mata untuk belok ke arah kiri. Untuk berhenti, cukup mengedipkan mata sebanyak dua kali.

“Jadi gerakan untuk berhenti memang sengaja dibuat lebih mudah, karena bisa jadi ada kondisi tertentu yang membuat pengguna kursi roda  berhenti secara tiba-tiba,” ucapnya.

Selain menggunakan sensor otak, Mindy Wheelchair juga menggunakan sensor jarak ultrasonik sebagai pengaman yang diletakkan di bagian depan dan belakang kursi roda.

“Jadi seandainya pengguna kursi roda tidak sempat mengedipkan mata dua kali untuk berhenti, maka kursi roda akan otomatis berhenti dengan sendirinya. Karena sudah dilengkapi sensor jarak ultrasonik,” ungkapnya.

Kursi roda ini, lanjutnya, juga disertai aki 12 volt 3,5 Ah sebagai catu daya untuk menggerakkan.

Sementara itu, dikatakan Fikri, untuk saat ini, Mindy Wheelchair belum diperjualbelikan karena masih dalam pengembangan.

Baca Juga
Lihat juga...