Polres Banyumas Amankan Pelaku Tambang Pasir Ilegal

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Jajaran Polres Banyumas mulai menindak tegas praktik penambangan pasir ilegal yang marak terjadi di sepanjang Sungai Serayu. Pemilik peralatan penambangan dan truk pengangkut pasir, ditetapkan sebagai tersangka, yaitu S (66), warga Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang berdomisili di Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kasat Reskrim Polres Banyumas, AKB Gede Yoga Sanjaya, mengatakan, penambangan ilegal ini diamankan di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede. Penambangan pasir tersebut sudah beroperasi enam bulan.

Kasat Reskrim Polres Banyumas, AKP Gede Yoga Sanjaya -Foto: Hermiana E Effendi

Modusnya dengan menggunakan alat sedot pasir yang dinaikkan di atas perahu. Kemudian dengan perahu tersebut, menyusuri sungai untuk menyedot pasir.

ʺDari pengakuan tersangka S, pasir hasil penambangan tersebut dijual dengan harga Rp500 ribu per rit. Untuk sementara, S belum kita tahan, karena yang bersangkutan bersikap kooperatif,ʺ terang Kasat Reskrim, Kamis (13/12/2018).

Petugas mengamankan beberapa barang bukti dari lokasi kejadian, seperti satu unit truk Mitsubishi Colt Diesel, warna kuning dengan nopol R 1342 TA, kemudian dua buah mesin diesel penyedot, blower, pipa pralon, alat pembagi air (NS), satu buah bronjong dan satu buah tongkat besi sepanjang enam meter serta uang tunai.

Sementara itu, tiga pekerja yang kedapatan sedang menambang pasir, sejauh ini masih berstatus sebagai saksi. Tiga pekerja tersebut adalah Sunarko (45), warga Bojonegoro, Jawa Timur yang bertugas sebagai operator mesin sedot, Berto (35), warga Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, yang juga bertugas sebagai operator mesin sedot. Satu pekerja lainnya, Sawing (50), warga Desa Somakaton, yang bertugas mengatur pasir di dalam truk.

ʺJadi, cara kerja mereka adalah pasir di dasar Sungai Serayu, disedot. Kemudian dialirkan melalui pipa ke atas truk sampai penuh. Di atas truk ada petugas yang mengatur, setelah penuh truk tersebut kemudian mengangkut pasir untuk dijual, begitu seterusnya,ʺ kata Kasat Reskrim.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 158 UU RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Bartubaram, yaitu melakukan usaha penambangan tanpa melengkapi izin. Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara dan Rp10 miliar.

Kasat Rekrim menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk memberantas penambangan pasir ilegal. Sebab, selain merusak habitat sungai, penambangan tersebut juga merugikan warga sekitar, karena sekitar sungai menjadi rawan longsor.

Lihat juga...