Posdaya Berperan Mengedukasi Bahaya Narkoba dan LGBT

Editor: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Pendidikan orangtua terhadap anak dengan gaya hidup di era kini, terjadi perubahan. Misalnya, dalam hal cara memperhatikan orangtua terhadap anak. Bisa berbanding terbalik dengan kondisi beberapa tahun lalu.

Sebelum tahun 2000 atau sebelum memasuki tahun milenium, pendidikan dan perhatian orang tua kepada anak terbilang berkategori manual ataupun tradisional. Lebih kepada mendidik anak untuk mengerjakan segala sesuatu secara mandiri.

Misalnya, mendidik untuk melaksanakan ibadah tanpa harus diingatkan. Begitu juga dengan persoalan keseharian di rumah, orang tua tidak membiarkan anak duduk termenung tanpa ada kegiatan lain, di luar  tugas sekolah.

Melihat pada era tahun 2000 hingga sekarang, merupakan era perkembangan teknologi informasi. Pendidikan dan perhatian orang tua lebih kepada soal penyediaan alat teknologi, seperti gadget atau pun tablet. Hal inilah yang sekilas dipahami, menjadi persoalan, misalnya dalam hal kesiapan menghadapi hidup. Kurang dimiliki bagi anak-anak yang hidup di zaman teknologi informasi.

Atas situasi tersebut, diinisiasi Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Hidayah yang ada di Kelurahan Sawahan Timur, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, didirikanlah Posyandu Remaja.

Ketua Posdaya Hidayah, Ningsih, menjelaskan, Pos Layanan Terpadu (Posyandu) Remaja didirikan baru selama satu bulan terakhir. Konsep didirikannya Posyandu Remaja ialah memberikan pemahaman dan pendidikan kepada para remaja, yang bisa jadi tidak begitu cukup baik ketika mendapatkan dari kedua orang tuanya.

“Konsepnya semacam diskusi atau sosialisasi, khususnya terkait bahaya dan ancaman seperti narkoba maupun lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Remaja sekarang itu  lebih banyak tahu soal teknologi, tapi soal ancaman kurang mereka pahami,” katanya, Selasa (18/12/2018).

Menurutnya, Posyandu Remaja adalah solusi sekaligus upaya menyelamatkan generasi muda dari ancaman pergaulan bebas, tidak terkendali. Peran Posyandu Remaja tersebut misalnya saja juga turut membantu solusi remaja yang ada di setiap masjid di berbagai lingkungan tempat tinggal.

“Kalau Remaja Masjid itu lebih banyak tentang pemahaman keagamaan yang dikaitkan dengan kondisi terkini. Misalnya, soal pakaian,  mendidik para remaja belajar berpakaian sopan, sesuai ajaran Islam,” ujarnya.

Ia menyebutkan, kegiatan Posyandu Remaja dilakukan satu kali dalam satu bulan. Di bulan pertama ini, ada puluhan remaja yang terdata di Posyandu Remaja. Sejauh ini, sebagai langkah awal, lebih fokus mengedukasi soal penyakit LGBT.

Ningsih mengaku, di Padang, persoalan bahaya LGBT tengah gencar diperangi oleh pemerintah. Untuk itu, Posdaya berperan lebih di tengah masyarakat hingga ke penduduk yang lebih muda. Remaja adalah sasaran empuk yang menjadi incaran para pengidap penyakit LGBT.

“Ini dari sisi LGBT, belum lagi sisi narkoba. Jadi, kita benar-benar ingin membantu pemerintah menyelamatkan generasi muda dari pengaruh tidak baik tersebut,” tegasnya.

Ia berkata, peran Posyandu tersebut turut menjalankan pilar Yayasan Damandiri dalam memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan di Padang.

Tekad Posdaya Hidayah semakin bulat, karena turut didukung oleh Koperasi Serba Usaha Dewantara Ranah Minang Padang yang menjadi sandaran Posdaya Hidayah.

Lihat juga...