Potensi Budidaya Peternakan Lahan Kering NTT Menjanjikan

198
Ilustrasi - Dok CDN

KUPANG — Provinsi Nusa Tenggara Timur dinilai mampu membudidayakan ternak di lahan kering karena provinsi berbasis kepulauan itu memiliki iklim dengan dengan musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan musim hujan.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana ( Undana) Kupang Diana A Wun kepada wartawan di Kupang, Selasa (4/12) mengatakan bahwa curah hujan yang ada di NTT hanya berlaku tiga sampai empat bulan saja.

“Sementara kalau berbicara soal musim kemarau yang terjadi di NTT bisa mencapai delapan bulan. Sehingga budidaya ternak lahan kering akan sangat bagus kalau di NTT,” katanya.

Menurut dia budidaya ternak lahan kering hanya terjadi di NTT saja, jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Masalah kekeringan sering menjadi kendala bagi para peternak di NTT, untuk mencari pakan ternak, oleh karena itu Undana akan lebih mengoptimalkan kondisi lahan kering yang ada di NTT ini. Namun terlebih dahulu pihaknya akan melakukan penelitian yang hasilnya dapat menunjang peningkatan budidaya ternak di daerah lahan kering menjadi lebih optimal.

Ia mengatakan bahwa pada Sabtu (1/12) lalu pihaknya juga sudah menggelar seminar nasional dan mengundang sejumlah pakar peternakan seperti Kepala Dinas Peternakan NTT Danny Suhadi, Ketua Asosiasi Medik Reproduksi Veteriner Indonesia Agung Budiyanto. NTT juga ingin menjadi pusat pengetahuan di mana orang lain dapat belajar bagaimana membudidaya ternak dengan kondisi iklim seperti ini.

Seminar yang dilaksanakan itu juga sebagai ajang agar baik mahasiswa sertai peneliti dari Undana bisa banyak belajar dari para ahlinya.

Diana pun berharap suatu saat Undana akan menjadi pusat pengetahuan untuk budidaya lahan kering yang terkenal dan diketahui banyak orang. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...