Prancis Bersiap Menghadapi Potensi Rusuh Rompi Kuning

Ilustrasi bendera Prancis - Foto: Dokumentasi CDN

PARIS – Sedikitnya 89.000 personel polisi Prancis, direncanakan dikerahkan di seluruh negara tersebut, di tengah kekhawatiran mengenai potensi kerusuhan, selama protes anti-pemerintah pada akhir pekan ini.

“Sebanyak 8.000 personel polisi direncanakan ditugaskan di Paris dan kendaraan lapis baja juga siap dikerahkan. Kami menghadapi orang yang bukan datang untuk memprotes tapi merusak,” kata kata Perdana Menteri, Edouard Philippe.

Dilaporkan, toko dan restoran di Champs-Elysees di Paris, dan sebagian museum di kota tersebut, direncakan juga akan menutup aktivitasnya. Managemen Menara Eiffel mengumumkan di akun Twitternya, menara itu direncanakan ditutup untuk umum pada Sabtu (8/12/2018), akibat aksi demonstrasi. Dengan kebijakan tersebut, wisatawan akan mendapat penggantian pembelian karcis.

Ribuan pemrotes Rompi Kuning, telah berkumpul di kota-kota besar utama Prancis, termasuk di Paris sejak 17 November. Mereka menggelar aksi memprotes tindakan kontroversial Presiden Emmanuel Macron, menaikkan pajak bahan bakar, dan kondisi ekonomi yang memburuk di Prancis. Demonstran, yang biasanya tinggal di daerah pedesaan, akibat tingginya harga sewa di kota besar, menyeru kepada Macron, untuk memangkas pajak bahan bakar, dan membuat pengaturan ekonomi untuk meringankan beban hidup mereka.

Philippe mengumumkan, Prancis akan menunda kenaikan pajak bahan bakar selama enam bulan. Penangguhan tersebut, akan berlaku juga pada kenaikan harga gas dan listrik. Pemerintah setempat, telah mencabut rencana kenaikan harga bahan bakar. “Pemerintah siap berdialog dan memperlihatkannya, sebab kenaikan pajak bahan bakar ini, telah dicabut dari rencana anggaran 2019,” kata Philippe, di dalam pidato di Sidang Majelis Nasional, atau Majelis Rendah Parlemen setempat.

Lihat juga...