Prancis Bersiap Menghadapi Potensi Rusuh Rompi Kuning

153
Ilustrasi bendera Prancis - Foto: Dokumentasi CDN

PARIS – Sedikitnya 89.000 personel polisi Prancis, direncanakan dikerahkan di seluruh negara tersebut, di tengah kekhawatiran mengenai potensi kerusuhan, selama protes anti-pemerintah pada akhir pekan ini.

“Sebanyak 8.000 personel polisi direncanakan ditugaskan di Paris dan kendaraan lapis baja juga siap dikerahkan. Kami menghadapi orang yang bukan datang untuk memprotes tapi merusak,” kata kata Perdana Menteri, Edouard Philippe.

Dilaporkan, toko dan restoran di Champs-Elysees di Paris, dan sebagian museum di kota tersebut, direncakan juga akan menutup aktivitasnya. Managemen Menara Eiffel mengumumkan di akun Twitternya, menara itu direncanakan ditutup untuk umum pada Sabtu (8/12/2018), akibat aksi demonstrasi. Dengan kebijakan tersebut, wisatawan akan mendapat penggantian pembelian karcis.

Ribuan pemrotes Rompi Kuning, telah berkumpul di kota-kota besar utama Prancis, termasuk di Paris sejak 17 November. Mereka menggelar aksi memprotes tindakan kontroversial Presiden Emmanuel Macron, menaikkan pajak bahan bakar, dan kondisi ekonomi yang memburuk di Prancis. Demonstran, yang biasanya tinggal di daerah pedesaan, akibat tingginya harga sewa di kota besar, menyeru kepada Macron, untuk memangkas pajak bahan bakar, dan membuat pengaturan ekonomi untuk meringankan beban hidup mereka.

Philippe mengumumkan, Prancis akan menunda kenaikan pajak bahan bakar selama enam bulan. Penangguhan tersebut, akan berlaku juga pada kenaikan harga gas dan listrik. Pemerintah setempat, telah mencabut rencana kenaikan harga bahan bakar. “Pemerintah siap berdialog dan memperlihatkannya, sebab kenaikan pajak bahan bakar ini, telah dicabut dari rencana anggaran 2019,” kata Philippe, di dalam pidato di Sidang Majelis Nasional, atau Majelis Rendah Parlemen setempat.

Tiga orang telah tewas selama kerusuhan, sementara 1.043 orang lain mengalami cedera, termasuk 222 anggota pasukan keamanan. Menurut survei baru-baru ini, 84 persen rakyat Prancis, kebanyakan dari kelompok berpenghasilan menengah,  mendukung aksi protes itu. Harga bahan bakar di Prancis telah naik lebih dari 20 persen tahun ini.

Sementara itu Menteri Dalam Negeri Prancis, Christoper Castaner, menyebut, aksi protes selama tiga pekan terakhir di Prancis, telah menciptakan monster. Castaner menyebut, jumlah pemrotes diperkirakan mencapai beberapa ribu orang. Menurutnya, kaum ekstremis pro-kekerasan, diperkirakan ada di antara demonstran. Oleh karenanya, perlu merencanakan langkah keamanan secara besar. “Takkan ada toleransi bagi pelaku kekerasan,” tegas Castaner.

Pemrotes dengan mengenakan rompi kuning, sehingga mereka dijuluki Rompi Kuning, Sabtu pagi waktu setempat berkumpul di Jalan Chams-Elysees, yang terkenal sebagai pusat pertokoan, restoran dan bank. Mereka dilaporkan mulai melakukan tindakan kekerasan. Termasuk menutup pintu dan jendela, dengan papan kayu serta pagar kawat.

Polisi menyebarkan pemberitahuan kepada pemilik toko dan restoran di sepanjang jalan itu, memperingatkan kemungkinan kerusuhan selama demonstrasi. Beberapa pejabat keamanan setempat, meminta toko dan restoran untuk tetap menutup pintu dan jendela, dan tidak meninggalkan kursi dan meja di luar. Mereka juga memintah perusahaan pembangunan di kota tersebut tidak meninggalkan barang di jalan.

Pasukan keamanan juga melakukan tindakan di dekat Elysee Palace di ibu kota negeri itu. Pengerahan polisi telah ditingkatkan sebelum demonstrasi terjadi. Puluhan kendaraan lapis baja dan 89.000 tentara dikerahkan, termasuk 8.000 personel di Paris. Banyak kantor pemerintah regional di seluruh Prancis juga telah melarang penjualan bahan bakar dan barang lain yang mudah terbakar. Demonstrasi juga telah mempengaruhi kehidupan budaya di Paris. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...