Prawirosetiko dan Cendana, Keluarga Besar yang Saling Membantu

Editor: Mahadeva WS

1.438

JAKARTA – Keluarga besar leluhur Presiden ke-2 Indonesia HM Soeharto, dari Trah Prawirosetiko, Yogyakarta, bersilaturahmi dengan keluarga Presiden Soeharto di Cendana, Jakarta.

Perwakilan keluarga Prawirosetiko, Heri Wiryono menyebut, kunjungan ke Cendana, adalah bagian dari silaturahmi keluarga besar, yang sudah jarang bertemu. “Kita memang mengetahui keluarga Cendana mendirikan Partai Berkarya, dan jika dibilang mendukung, saya kembalikan kepada pribadi masing-masing kepastiannya, intinya kita keluarga besar akan saling membantu,” ungkap Heri kepada Cendana News, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (16/12/2018).

Heri menyebut, sejauh ini keluarga besar Prawirosetiko hidup rukun, saling mendukung. Mereka hidup saling tolong menolong dalam keseharian. Perihal agenda kebangsaan dari keluarga Cendana, Heri menyebut, keluarga besarnya mengharapkan, siapa saja yang menjadi presiden, bisa mencontoh teladan yang diberikan Alm.  Presiden Soeharto.

Seorang pemimpin yang bisa memberikan kemudahan bagi rakyatnya. “Harga-harga bisa terjangkau, kesempatan bekerja terbuka luas, bisa memberikan keamanan kepada rakyat, itu dapat dikatakan sebagai presiden yang berhasil,” tandasnya.

Mbak Tutut saat menyambut kehadiran keluarga besar Prawirosetiko di Cendana – Foto Istimewa

Di Indonesia saat ini menurut Dia, para pemimpinya saling klaim berhasil membangun. Semuanya diklaim hasil dari presiden yang sekarang menjabat. Sementara sejatinya, yang terjadi malah merubah harga dari terjangkau menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat. Seperti, harga beras yang sebelumnya hanya Rp8.000, saat ini di era Joko Widodo menjadi Rp12.000. “Untuk beras saja yang pokok, tidak dapat memberikan kemudahan buat rakyat. Belum bisa diklaim berhasil,” tegasnya.

Heri menyebut, pembangunan yang diklaim, hanya untuk menyenangkan rakyat. Semuanya hanya hal-hal yang klise, dan lips service. Rakyat kecil seolah-olah diberi bantuan pendikan atau bantuan lainnya. Namun pada dasarnya, tidak diberikan kemampuan. Presiden yang dipilih, minimal mampu membuat lapangan kerja, kesempatan berusaha, kesempatan mendapatkan kehidupan yang murah, dan rasa aman.

“Yang menilai bukan satu kelompok, tetapi rakyat seutuhnya, yang menilai berhasil atau tidaknya dalam memimpin suatu bangsa. Jika belum bisa apa yang tadi saya sebutkan, belum bisa mengklaim negarawan berhasil, karena parameternya yang dialami rakyat Indonesia baru pak Harto yang bisa memberikan itu semua,” tutur Heri.

Dikatakan Heri, apa yang telah dipersembahkan pak Harto dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia. Rencana Pembagunan Lima Tahun (Repelita), merupakan acuan pembanguan dari  Presiden Soeharto. Repelita satu, sudah terlihat tujuannya. Repelita dua mulai tercapai, dan repelita ketiga sudah semakin ringan, dan rakyat mulai menikmati hasil dari pembangunan. “Bisa dirasakan perbedaannya, dari susah menjadi tidak susah,” tandasnya.

Dengan hal tersebut Heri berharap, jika keluarga ada yang berniat berpolitik, maka harus bisa mencontoh yang telah dicapai oleh keluarga, dalam hal ini Jendral Soeharto. “Sosok presiden yang sukses menumpas PKI, perjuangan serangan satu maret, itu merupakan suatu bukti nyata, dan sejarah telah mencatatnya,” tandasnya.

Menurutnya, manusia memang bukanlah sosok sempurna. Dan jika menginginkan seorang pemimpin yang sempurna, itu sangat mustahil. “Tidak ada seseorangpun yang sempurna di dunia ini, termasuk Pak Harto, ada kekurangan dan kelebihan. Namun dibandingkan kekurangannya, kelebihan Pak Harto tentu jauh lebih banyak,” tandasnya.

Kehidupan saat ini, jauh lebih enak dibanding era 1965. Siapapun presiden yang memimpin Indonesia saat ini, tentu tidak akan merasakan bagaimana beratnya pak Harto membangun Negeri ini.

Lihat juga...