Presiden Meminta Aparat Keamanan Serius Tangani Pembalakan Liar

Ilustrasi - Hutan yang gundul akibat pembalakan liar [CDN]

JAMBI – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta aparat keamanan serius, menangani aksi pembalakan liar yang masih terjadi di Provinsi Jambi.

“Tolong ditertibkan Pak Kapolda, tidak ada pembiaran sudah,” kata Presiden Joko Widodo di Taman Hutan Pinus Kenali, kota Jambi, Minggu (16/12/2018).

Presiden menyampaikan hal itu, dalam acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Perhutanan Sosial. Hadir dalam acara tersebut Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar. “Di semua provinsi masih ada (pembalakan liar). Itu tugasnya aparat hukum dan kepolisian,” tegas Presiden.

Keluhan mengenai pembalakan hutan, muncul dari salah satu petani di kabupaten Tebo bernama Zulkipli. “Saya minta pembalak liar, cukong yang merajalela untuk ditindak Pak, jangan ada pembiaran,” kata Zulkipli dalam dialog dengan Presiden.

Di acara tersebut, Zulkipli, adalah pemimpin salah satu koperasi di Kabupaten Tebo, yang menerima 500 hektare perhutanan sosial. Lahan tersebut, selama ini ditanami jengkol dan petai. “Saya sudah berapa kali me-WA (mengirimkan whatsapp) ke ibu menteri, karena saya punya WA ibu menteri (Siti Nurbaya),” tambah Zulkipli.

Zulkipli mengklaim, sudah mengirim surat ke Kapolda, Kapolres, sampai Mabes Polri, untuk meminta tolong dilakukan penertiban.  Dalam kesempayan tersebut, Zulkipli juga meminta tambahan lahan seluas 2.000 hektare perhutanan sosial, yang rencananya akan ditanami manggis. “Saya minta bibit manggis Pak, kok Sumbar (Sumatera Barat) bisa maju, Jambi kok tidak bisa? Saya minta 2.000 hektare hanya untuk manggis,” tambah Zulkipli.

Masalah pembalakan liar juga disampaikan petani dari kabupaten Kerinci, Jambi, bernama Abdul Haris. Petani tersebut menanam buah kepayang atau buah kluwuk, yang lazim ditemukan di Pulau Jawa. “Di lagu pun ada yang mengatakan mabuk kepayang, di zaman dulu di Jambi, sumber minyak sawit dan minyak kelapa sulit, jadi masyarakat jambi mengambil minyak kepayang untuk masak sayur, untuk mengurangi lemak, kalau bandingkan minyak sawit mungkin 10-15 kali lipat harganya tapi ketersediaan minyak kepayang sulit karena tidak ada yang mau tanam lagi,” kata Abdul Haris.

Dia juga meminta disediakan perahu, untuk objek wisata alam, agar dapat menjadi objek wisata seperti kegiatan mancing mania. “Kami minta bantuan Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan, untuk warga berpatroli hutan. Tidak sedikit yang menjarah hutan baik individu maupun kelompok, memang kita sama-sama Indonesia tapi lain provinsi,” pungkas Abdul Haris. (Ant)

Lihat juga...