Presiden Soeharto Menggugah Semangat Tahun Baru

Editor: Mahadeva

438

Pergantian tahun, bukan hanya penggantian angka tahun semata. Fenomenanya, mesti disikapi lebih bijak. Peristiwa pergantian tahun, yang membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Manusia diberi akal dan naluri keingintahuan besar, yang membuat kita bisa merenungkan alam semesta di sekitar kita. Seperti di antaranya pola edar tata surya, hingga terciptanya kalender atau almanak. Sehingga, pergantian tahun dari 2018 ke 2019, seharusnya menjadi bahan renungan bersama.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto selalu melakukan pidato akhir tahun, yang dapat dijadikan bahan renungan. Terutama mengenai apa, yang telah pemerintah lakukan. Sehingga dapat membantu mewujudkan pembangunan yang lebih baik lagi.

Di 31 Desember 1992, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co, mengutip buku, Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIV (1992), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, Presiden Soeharto menyeru, di tahun-tahun mendatang, harus terus ditingkatkan otonomi, desentralisasi, dekonsentrasi dan deregulasi di berbagai bidang.

“Dalam pelaksanaan pemilihan umum tahun ini, harus dicegah jangan sampai timbul fanatisme golongan dalam bentuk apapun. Fanatisme golongan, akan memecah belah bangsa,” tegas Presiden Soeharto dalam pidato akhir tahunnya di 1992 tersebut.

Dalam kesempatan tersebut diingatkan, rasa persatuan dan kesatuan bangsa, tidak bisa dianggap sebagai barang jadi. Perlu pemupukan secara terus menerus, dengan penuh ketekunan dan tanggung jawab. “Perubahan-perubahan yang dilakukan, tidak membuka celah-celah rawan,” tandas Presiden Soeharto mengingatkan.

Presiden Soeharto menyebut, tiga tugas nasional besar akan digelar di 1992. Yaitu, Pemilihan Umum 1992, pelantikan dan sidang pertama MPR dan DPR hasil Pemilu, serta Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non Blok. “Berbagai kebijakan yang harus kita lanjutkan. Antara lain, masih perlunya keserasian pembangunan dalam berbagai sektor ekonomi, pengendalian inflasi dan keseimbangan neraca pembayaran, pembangunan sektor industri, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, serta melanjutkan penyelenggaraan pertemuan akbar kebudayaan secara berkala, seperti Kongres Kebudayaaan Nasional dan Festival Istiqlal 1991,” tutur Pak Harto.

Di 1992, Indonesia perlu meningatkan kewaspadaan, dalam upaya pengendalian perekonomian nasional. Telah terlihat, tanda-tanda perekonomian dunia sedang mengalami kelesuan, dan mengandung berbagai kemungkinan yang sulit diramal. “Yang penting adalah, kebulatan tekad kita untuk bekerja keras, memanfaatkan secara tepat setiap peluang yang terbuka,” tambah Presiden Soeharto.

Sementara itu sebelumnya, di pidato akhir tahun 1990, Presiden Soeharto mengatakan, pembangunan telah membuka peluang-peluang baru, bagi bangkitnya potensi-potensi dan prakarsa-­prakarsa masyarakat. Ada kelompok-kelompok yang telah siap, dan lebih mampu memanfaatkan peluang-peluang baru tersebut. Mereka tumbuh makin besar dan makin kuat. Ada pula kelompok, yang belum terlalu siap dan belum dapat mengembangkan kemampuannya.

Menurut Presiden Soeharto, perkembangan terbaru belum pernah dikenal dan dialami sebelumnya. Perkembangan baru itu merupakan buah kemajuan yang dicapai bangsa. “Pegangan kita adalah, agar semua kekuatan ekonomi kita memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, seperti semangat UUD 1945. Yang besar tidak perlu kita tahan perkembangannya, karena yang besar dapat kita gunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” kata Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto (dok Soeharto.co)

Presiden Soeharto meminta, yang masih kecil dan belum mampu, didorong agar menjadi lebih besar dan lebih mampu. “Pemerintah memikul kewajiban dan tanggungjawab, untuk memberi arah, agar semua kekuatan ekonomi, yang besar dan yang menengah maupun yang kecil, milik negara, ataupun usaha swasta dan koperasi, dapat menjadi kekuatan ekonomi nasional, yang selain menunjang dan saling menghidupi, demi sebesar-besar kemakmuran rakyat tadi,” tuturnya.

Sementara, di pidato akhir tahun 1984, Presiden Soeharto  menyebut, 1984 merupakan tahun yang penuh dengan tugas-tugas berat. Yang dilakukan di 1984, menjadi satu tahapan dari rangkaian tahun-tahun pembangunan yang akan datang. “Terutama dalam memperkukuh sendi-sendi utama, untuk memberi pijakan yang kuat, dan arah yang tepat, bagi usaha-usaha pembangunan selanjutnya,” tandas Presiden Soeharto.

Sedang 1985, akan menjadi tahun yang sulit dan berat bagi Indonesia. Namun, sebagai bangsa pejuang, keadan itu akan ditanggapi sebagai dorongan untuk makin giat, mengerahkan segala kemauan dan kemampuan, untuk memancangkan tonggak pembangunan di segala bidang. Perkembangan ekonomi dan politik dunia, yang tidak selalu menguntungkan, akan terus terasa pengaruhnya bagi Indonesia. Karena itulah, akan terus diusahakan agar lingkungan dapat memberi suasana yang sebaik-baiknya, bagi kelanjutan pembangunan nasional.

Di dalam negeri, akan terus dipelihara kewaspadaan dan kesiap-siagaan. Memperluas partisipasi masyarakat dalam pembangunan, dan memelihara kesetiakawanan sosial. “Yang juga tidak kalah penting adalah, menggerakkan disiplin nasional di segala lapisan masyarakat, dan aparatur pemerintahan,” tegasnya.

Dengan bekal pengalaman dan semua yang telah dicapai di 1984, Presiden Soeharto menyeru, masuki 1985 dengan penuh kepercayaan kepada kemampuan sendiri sebagai bangsa. “Marilah kita masuki tahun baru ini dengan semangat baru, dan tekad yang terus kita perbaharui,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...