Produk Organik Indonesia Menembus Inggris

320
Ilustrasi - Salah satu petani padi organik - Dok CDN

LONDON – Sebanyak sembilan pengusaha Indonesia, yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman organik, berupaya merambah pasar Inggris. Upaya tersebut dilakukan untuk berbagai produk organik Indonesia, mulai dari madu, singkong, kopi, beras hingga mie organik.

Mereka adalah Javara, Imyco, Asosiasi Industri Organik Indonesia, Ladang Lima, Petrasa, Mozass Healthy Laboratory, CV Harapan Bersama, Cookwell dan PT Profil Mitra Abadi. Perusahan tersebut, ikut pameran yang bertajuk Indonesia Organic Food, yang diadakan KBRI London.

Fungsi Pensosbud KBRI London, Okky Diane Palma, dalam acara talk show yang dipandu pakar pemasaran di bidang hospitality, Tracey Howes, mengatakan, tampil sebagai pembicara adalah, CEO Javara Helianti Hilman, ahli gizi Vita Dikaryanto, dan Chef Budiono. Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris, Rizal Sukma, menyebut, masyarakat di Inggris, sebagaimana banyak negara di dunia, memiliki tingkat kesadaran yang makin tinggi untuk beralih ke produk-produk pangan organik.

Perubahan pola hidup, menjadikan Inggris sebagai pasar organik terbesar di dunia, dengan nilai sekira 2,3 miliar poundsterling. Pertumbuhan pasar tersebut, sejalan dengan pertumbuhan industri makanan organik di Indonesia. “Peluang ini yang hendak dimanfaatkan Indonesia di Inggris, selain terus meningkatkan ekspor produk-produk komoditi Indonesia,” ujarnya.

Helianti Hilman dalam kesempatan talk show tersebut menyebut,  peningkatan pasar pangan organik, penting untuk melindungi kekayaan ragam produk organik. Termasuk upaya pengembangan kapasitas dari farmpreneurship petani Indonesia. “Tantangan untuk memasuki pasar internasional adalah standarisasi, baik di tingkatan negara hingga di tingkat mikro seperti supermarket,” tandasnya.

Untuk itu, dalam pengembangan usahanya, dapat melibatkan pengembangan kapasitas SDM petani, untuk mampu menembus pasar dunia. Indonesia memiliki makna strategis, dalam kemampuan untuk mensuplai maupun menyajikan ragam produk organik ke dunia. “Secara alamiah, Indonesia adalah lumbung produk organik,” ujar Helianti.

Ia juga menjelaskan, pemasaran produk organik saat ini lebih banyak menggunakan media sosial. Hal ini berdampak pada makin tingginya konsumen berusia muda, antara 25 hingga 35 tahun. Sementara sebelumnya, konsumen dari pangan organik, lebih banyak berusia sekira 55 tahunan. Diaspora Indonesia, Chef Budiono, mengaku memiliki kebutuhan produk organik yang besar untuk mensuplai kebutuhan pekerjaannya. Terutama dikala mengolah menu Indonesia yang memerlukan bumbu khas Indonesia. “Adalah impian saya sebagai chef di London untuk bisa mendapatkan bahan dan bumbu organik Indonesia di Inggris,” ujarnya.

Sementara itu Vita, dokter yang sedang menjalani pendidikan di Kings College London, mendorong peningkatan konsumsi produk organik. “Penelitian terkait khasiat makanan organik masih terus berkembang, namun pada dasarnya mengkonsumsi produk organik secara fisiologis dan psikologis dapat memberikan efek positif bagi konsumen,” tandasnya.

Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari penikmat produk organik, food blogger, pengusaha restoran, asosiasi makanan organik hingga distributor pangan di Inggris. Semuanya memberikan respon positif, atas pameran tunggal pertama bagi produk organik Indonesia tersebut.

Stevanus Wangsit, dari Aliansi Organik Indonesia, mengapresiasi efek stimulan pameran terhadap produk organik Indonesia. “Hari ini saya mendapatkan potensi kerjasama yang bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.

Melihat potensi yang cukup besar untuk produk organik dan kopi, KBRI London berencana untuk menyelenggarakan kegiatan serupa tahun depan. Harapannya kegiatan semacam ini dapat mengedukasi pasar Inggris akan produk unggulan Indonesia dan memperkuat akses ke distributor atau importir Inggris. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...