hut

Produksi Ikan Tangkapan di Babel Lebihi Target

Ilustrasi -Dok: CDN

PANGKALPINANG – Terhitung sampai akhir November 2018, terjadi peningkatan nilai produksi hasil tangkapan ikan oleh nelayan yang mendaratkan kapalnya di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tercatat data dari Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PPIP) setempat, nilai penjualan produksi ikan sampai akhir November 2018, mencapai Rp113.118.949.000, dengan volume produksi 4.515.307 kilogram. Jumlah produksi tersebut melampaui target tahun 2018, yang ditetapkan sebanyak 4.245.000 kilogram.

Realisasi capaian target produksi sampai November 2018, melebihi dari total produksi, dan nilai penjualan pada 2017 sebanyak 4.419.520 kilogram, dengan nilai Rp109.676.141.000.

Jumlah nelayan yang mendaratkan hasil tangkapan ikan di pelabuhan lebih dari 1.000 orang, dari sekitar 700 kapal penangkapan berbagai ukuran dan berbagai jenis alat tangkap.

Pendistribusian produksi ikan hasil tangkapan nelayan, umumnya ditampung ke pedagang pengumpul, untuk selanjutkan dijual kembali ke pedagang pengecer, dilelang atau dipasok ke perusahaan ekspor untuk jenis ikan tertentu.

“Pola distribusi ikan tangkapan nelayan yang sebagian besar masih di tingkat pasar lokal, menjadi salah satu sebab tidak stabilnya harga, demikian pula belum adanya pihak swasta yang berani mengembangkan usaha pengolahan ikan skala besar yang menampung semua jenis ikan hasil tangkapan,” kata Ketua Himpunan Pengusaha Ikan dan Nelayan Sungailiat Kabupaten Bangka, Muhammad Ali.

Dikatakan, diimbangi dengan meningkatnya perekonomian masyarakat nelayan, pola berpikirnya pun berkembang mengikuti perkembangan zaman. Anak-anak pesisir sudah mengikuti pendidikan formal sampai ke jenjang perguruan tinggi, bahkan sudah ada yang menempati jabatan strategis di pemerintahaan maupun di lembaga politik dan organisasi kemasyarakatan.

Pihaknya juga mendorong masyarakat nelayan untuk mengembangkan usaha olahan ikan skala mikro, seperti pembuatan ikan asin atau jenis olahan ikan lainnya yang dapat membantu meningkatkan ekonomi keluarga.

Kendala nelayan di Pelabuhan Perikanan selain harus berhadapan dengan cuaca dan gelombang pasang di laut pada saat tertentu, mereka juga dihadapkan dengan persoalan pendangkalan infrastruktur Muara Air Kantung, yang menjadi pintu utama kapal nelayan, baik dari laut membawa hasil tangkapan maupun sebaliknya.

Muara Air Kantung yang terletak sekitar lebih dari 200 meter dari pelabuhan perikanan, selama beberapa tahun mengalami pendangkalan pasir, yang menghambat oleh gerak keluar masuk kapal nelayan.

Pendangkalan muara disebabkan oleh penumpukan pasir yang didorong masuk ke muara, oleh gelombang air laut pada saat terjadi gelombang tinggi.

Pada saat terjadi penumpukan itulah menjadi permasalahan bagi nelayan, karena aktivitas penangkapan atau pembongkaran ikan menjadi terhambat.

Penyempitan pintu muara yang dangkal, bahkan pernah mengakibatkan sejumlah kapal dari laut membawa ikan hasil tangkapan, terbalik karena memaksa masuk ke pelabuhan.

Anggota DPRD Kabupaten Bangka, Hendra Yunus, meminta pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat, sebagai lembaga unit teknis vertikal di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, mampu membantu menyerap dana dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) untuk kegiatan pengerukan, mengingat ketersediaan jumlah anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) terbatas.

“APBD pemerintah Kabupaten Bangka yang jumlahnya terbatas, tentu tidak memungkinan dialokasikan untuk kegiatan pengerukan muara Air Kantong yang menyerap dana cukup besar. Saya berharap, pihak PPN mampu mengusulkan dana dari APBN,” katanya.

Selain melakukan pengerukan yang harus dilakukan terus-menerus, secara teknis untuk mencegah masuknya pasir ke muara harus dibangun dinding beton penahan dengan panjang dan lebar sesuai pintu muara.

“Pendangkalan muara yang terjadi cukup lama harus menjadi perhatian serius, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, dan ditangani secara terpadu,” katanya.

Pengerukan pendangkalan muara Air Kantung yang menjadi pintu utama kapal nelayan, kata Kepala PPN Sungailiat, Tri Aris Wibowo, saat ini dilakukan oleh pihak swasta yang bersedia membantu mengeruk menggunakan alat berat.

“Saya mengakui, bantuan pengerukan oleh pihak swasta tersebut dirasa membantu sekali bagi nelayan, meskipun sifatnya tidak permanen,” katanya.

Untuk penyerapan APBN guna pengerukan pendangkalan muara, pihaknya sudah berusaha maksimal mengusulkan ke pemerintah pusat, namun belum terealisasi karena memang ada keterbatasan dana APBN.

“Saat ini yang bisa kami lakukan adalah dengan meningkatkan koordinasi ke pihak swasta, untuk bersedia rutin membantu mengeruk muara atau melakukan pemeliharaan kolam pelabuhan dengan nilai anggaran yang terbatas,” jelasnya. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!