Produksi Padi di Sumatra Barat 2,8 Juta Ton

Editor: Koko Triarko

165

PADANG – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, mencatat hingga awal Desember ini, produksi padi mencapai 2,8 juta ton lebih, mendekati target tahun ini sebesar 3 juta ton. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, Candra, mengatakan, sebanyak 2,8 juta ton lebih itu, hampir mendekati target produksi padi tahun ini, yakni 3 juta ton. Apalagi sepanjang bulan Desember ini, memasuki masa-masa panen di beberapa daerah, sehingga produksi padi diperkirakan akan melebihi target.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, Candra/Foto: M. Noli Hendra

“Memang batul, ada beberapa daerah di Sumatra Barat yang dilanda banjir sepanjang tahun 2018 ini, tapi tidak berpengaruh besar. Karena hanya sebagian kecil sawah yang mengalami puso, dengan luas lahan 57 haktare,” katanya, Jumat (7/12/2018).

Ia menyebutkan, di antara 57 haktare itu ada sebagian kecil yang mengalami puso bukan karena bencana alam. Melainkan akibat diserang hama, seperti tikus dan wereng.

Artinya, kerugian yang dialami petani di atas luas lahan 57 haktare, tidak memberikan pengaruh besar terhadap produksi padi di Sumatra Barat pada tahun ini.

Selain ada 57 haktare lahan yang mengalami puso, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan juga mencatat, ada 3.500 lahan pertanian yang mengalami gangguan produksi, akibat adanya pengaruh cuaca. Hanya saja, 3.500 lahan itu masih bisa untuk dipanen, dan tidak menyebabkan kerugian yang berarti bagi para petani. Di Sumatra Barat, luas lahan sawah mencapai 225 ribu haktare.

“Saya optimis, target produksi padi di Sumatra Barat tahun 2018 ini akan tercapai, bahkan berlebih. Ke depan pada 2019, kita akan terus mengupayakan peningkatan produksi padi ini,” tegasnya.

Upaya peningkatan produksi tersebut, di antaranya memfokuskan kembali sistem tanam jajar legowo. Selama ini, tanam padi jajar legowo belum berjalan dengan baik, dan hanya sebagian kecil petani yang melakukan sistem tersebut.

“Dari 225 ribu haktare di Sumatera Barat, diperkirakan hanya sekira 32 persen lahan pertanian yang  telah menerapkan sistem tanam jajar legowo. Rendahnya minat petani, karena ketidakpahaman keuntungan dari sistem tanam legowo tersebut,” ujarnya.

Candra mengaku, untuk menggiatkan sitem tanam padi legowo, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumatra Barat, dibantu oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatra Barat, yang merupakan UPT dari Kementerian Pertanian, yang bertanggungjawab memberikan sekolah kepada para petani untuk bertanam padi dengan sistem jajar legowo.

Menurutnya, dengan menerapkan sistem tanam padi legowo tidak akan mengurangi produksi padi, tetapi malah bertambah. Dari hasil pengujian yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, dengan menerapkan sistem tanam padi jajar legowo, akan mampu meningkat produksi padi sebesar 10-15 persen. Artinya, jika sistem tanam padi jajar legowo diterapkan, target pemerintah untuk meningkatkan produksi padi pada 2019, kemungkinan bisa terwujud.

“Makanya, saya sebut upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi padi itu perlu diseriuskan kembali tanam padi jajar legowo tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...