Prof. Dr. Amir Syarifuddin: Guru Agama itu Hebat

Editor: Satmoko Budi Santoso

264

PADANG – Perjalanan pengabdian seorang guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Prof. Dr. Amir Syarifuddin, dapat menjadi inspiratif bagi para guru agama di tanah air.

Prof. Amir bukanlah sosok wajah guru besar baru di UIN Imam Bonjol Padang. Ia merupakan bagian dari sejarah berdirinya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, yang kini menjadi UIN Imam Bonjol. Setidaknya, ia turut melahirkan para sarjana Islam, melebihi usia setengah abad.

“Hari ini saya meluncurkan sebuah buku tentang perjalanan saya jadi guru agama yang berjudul Perjalanan Prof. Dr. Amir Syarifuddin Melebihi Setengah Abad Menjadi Guru Agama. Saya harap, buku ini dapat menginspirasi banyak orang,” katanya, Senin (3/12/2018).

Guru besar di Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang ini mengatakan, banyak hal yang ia tuliskan dalam buku itu. Salah satunya, tentang pengalaman dirinya ketika bertemu dengan seseorang di bandara, yang menanyakan profesi.

“Di dalam buku itu, ada cerita ketika saya ditanya oleh seseorang tentang pekerjaan. Dengan jelas saya sampaikan kalau saya adalah guru agama. Ekspresi dari orang itu, menunjukkan menjadi guru agama seakan dipandang sebelah mata. Nah, dari cerita ini, ada hal yang bisa dipetik,” ujarnya.

Melihat respon  itu, Amir menyambung pernyataannya tentang profesi yang dijalani kepada orang tersebut. “Saya mengajar di Pascasarjana IAIN IB Padang, Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan di Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia,” jelasnya. Melihat apa yang disampaikan, orang itu tercengang.

Menurutnya, sekilas pemahaman banyak orang menjadi guru agama adalah pekerjaan yang tidak begitu membanggakan. Buktinya, ada respon yang memperlihatkan meremehkan dirinya, ketika memberikan jawaban tentang pekerjaannya.

Artinya, hal yang demikian suatu gambaran, bahwa profesi sebagai guru agama kurang menarik dan kurang mendapat tempat di hati sebagian masyarakat. Inilah salah satu yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut.

“Padahal kalau diingat-ingat, melalui profesi sebagai guru, saya bisa berkeliling dunia, ceramah di New York, Philadelphia, dan Washington DC Amerika Serikat. Bahkan saya pernah berceramah dalam Sidang Senator Belanda ketika pertanggungjawaban Ratu Juliana,” imbuh Prof. Amir.

Dari pengalamannya yang dituliskan, menjadi bagian cerita di dalam buku tersebut. Menjadi guru agama bukanlah pekerjaan yang bisa diremehkan. Menjadi guru agama, berarti guru itu mengajarkan agama Islam ke banyak orang. Pendidikan seperti itu, bentuk pekerjaan yang mulai, karena mengajak atau menunjukkan para mahasiswa menuju jalan yang benar.

“Guru agama itu bagi saya pekerjaan yang mulia. Bahkan saya sangat senang jika bertemu dengan guru – guru agama lainnya. Karena akan ada diskusi dan bertukar pendapat. Artinya, guru agama itu memiliki amanah yang mulia,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III Dr. Ikhwan, SH, M. Ag menyampaikan, bahwa begitu penting menghormati dan menghargai seorang guru. “Saya masih ingat bagaimana situasi kelas ketika mengikuti perkuliahan bersama Prof. Amir,” ujarnya.

Wakil Rektor ini juga menyampaikan sepotong hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Tidak termasuk kelompok kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih besar, tidak menyayangi orang yang lebih kecil dan tidak pandai menempatkan orang alim”.

Umar Ibnu Khattab mengatakan: “Bersikap baiklah kamu terhadap orang-orang yang kamu pernah menuntut ilmu darinya.

“Jadi saya sangat mengapresiasi Fakultas Syariah yang mempraktikkan bagaimana mempertahankan etika bagi guru. Kita para dosen sekarang, harus mempertahankan kepribadian disamping intelektual,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...