Profesi Karyawan, Dominasi Penderita AIDS di Riau

PEKANBARU  – Dinas Kesehatan Provinsi Riau merekap jumlah kumulatif kasus AIDS menurut pekerjaan di daerah itu periode Januari-Oktober 2018, tercatat sebanyak 88 kasus adalah karyawan.

“Berikutnya berada pada peringkat kedua berasal dari wiraswasta atau membuka usaha sendiri yang tercatat sebanyak 52 kasus dalam periode yang sama,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Jumat.

Menurut Mimi, faktor risiko terjadinya penularan penyakit yang menyerang kekebalan tubuh itu yang tertinggi adalah heterokseksual, homoseksual dan pengguna alat suntik.

Ia menyebutkan, selain profesi wiraswasta, adalah penggangguran tercatat 42 kasus, ibu rumah tangga 41 kasus, PNS 10 kasus, petani, peternak, nelayan sebanyak 14 kasus, penjaja seks 1 kasus, buruh kasar 2 kasus, pelajar atau mahasiaswa 5 kasus.

Selain itu penderita berasal dari pekerjaan lainnya yakni supir, ojek, tukang parkir 5 kasus, TNI/Polisi/PP/security sebanyak 4 kasus, tenaga profesional non medis 3 kasus, dan narapidana 1 kasus.

“Untuk menangani kasus ini maka masyarakat diimbau perlu melakukan tes kesehatannya, dan berani untuk mengurangi risiko penularan virus HIV dan mau secara sukarela memeriksakan diri untuk mengetahui status HIV,” katanya.

Ia menjelaskan, masalah HIV-AIDS semakin komplek, dan diharapkan masyarakat untuk berani melakukan tes HIV agar dapat diketahui secara dini kondisi kesehatan masing-masing terkait HIV.

Sedangkan gejala seseorang terkena virus penyakit yang mematikan itu adalah sakit kepala secara tiba-tiba, kelelahan secara terus menerus, pembengkakan kelenjer getah bening, sakit tenggorakan, munculnya ruam pada kulit, nyeri pada otot dan sendi, sering berkeringat pada malam hari, dan luka pada mulut.

Selain harus rutin meminum obat lamivudine, zidovudine, dan nevirapine seumur hidup, penderita juga harus melakukan rawat jalan di rumah sakit. (Ant)

Lihat juga...