Puluhan Hektare Padi Terendam Luapan Sungai, Petani Percepat Panen

Editor: Satmoko Budi Santoso

225

LAMPUNG – Puluhan hektare tanaman padi di Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, masih terendam air akibat banjir luapan Sungai Way Pisang pada Sabtu (1/12). Puluhan hektare lahan padi sawah siap panen tersebut, di antaranya milik Wiyoto, salah satu pemilik lahan padi di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas.

Padi varietas Muncul Cilamaya yang terendam miliknya, berusia sekitar 90 hari dengan usia normal panen sekitar 120 hari. Ia menyebut, masih menunggu banjir surut agar bisa memanen padi miliknya, sekaligus menunggu padi menguning.

Wiyoto mengungkapkan, meski lahan padi miliknya berada jauh dari tanggul penangkis Sungai Way Pisang, dahsyatnya luapan air membuat sawah miliknya terendam. Selain luapan Sungai Way Pisang aliran sungai kecil di dekat lahan sawahnya hingga Senin (3/12) belum surut.

Imbasnya padi siap panen seluas setengah hektare miliknya roboh, sebagian tertimbun lumpur dan sampah. Semenjak banjir mulai surut, ia melakukan proses pengeringan petak sawah meminimalisir genangan air pada lahan miliknya.

Wiyoto menyebut, dampak banjir dipastikan berimbas pada penurunan kualitas gabah saat panen. Untuk dipanen, ia memastikan masih menunggu air surut menggunakan mesin pemanen (combine harvester).

Kondisi padi yang sebagian besar roboh, membuat tanaman padi miliknya dipastikan sulit dipanen dengan mesin. Proses pemanenan manual, diakuinya, akan dilakukan menggunakan sabit akibat batang padi roboh dan tergenang air.

“Secepatnya akan dipanen. Sebab jika menunggu usia panen normal, banyak tanaman padi yang terendam dikhawatirkan akan terendam air, sehingga gabah bisa berkecambah dan berwarna hitam. Harga jualnya rendah,” terang Wiyoto, saat ditemui Cendana News di lahan miliknya di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Senin (3/12/2018).

Wiyoto menyebut, dampak banjir luapan Sungai Way Pisang juga dialami oleh sejumlah petani padi di wilayah tersebut. Meski sebagian terendam oleh air, namun lokasi yang berjauhan dengan bantaran tanggul penangkis, membuat tanaman padi masih kokoh berdiri.

Sejumlah petani pemilik lahan padi yang masih tegak berdiri, memanen padi lebih cepat menghindari kerugian lebih banyak. Sejumlah lahan di sisi timur tanggul penangkis tepatnya di Desa Pematang Baru umumnya selamat dari rendaman air, meski sempat terimbas banjir.

Mulyadi, pemilik lahan padi seluas seperempat hektare di Desa Pematang Baru mengaku, mempercepat waktu panen. Ia memastikan, waktu panen baru akan dilakukan pekan depan, namun karena sebagian besar padi miliknya diterjang rendaman banjir, ia melakukan pemanenan lebih awal.

Dua hari setelah banjir surut, ia melakukan proses pemanenan menggunakan mesin combine harvester dengan ongkos panen Rp700.000 dalam satu hamparan.

“Saya harus secepatnya melakukan pemanenan. Sebab setiap hari dominan hujan dengan potensi banjir masih bisa melanda, daripada padi roboh saya panen lebih awal,” cetusnya.

Mulyadi menyebut, seperti pada masa panen sebelumnya, akhir masa tanam ketiga (MT3) ia bisa mendapatkan 2 ton gabah kering panen (KGP). Ia mengaku, beruntung tanaman padi miliknya masih kokoh berdiri, meski sempat terendam banjir.

Mulyadi, petani padi di Desa Pematang Baru Kecamatan Palas Lampung Selatan memanen padi miliknya lebih awal, menghindari banjir susulan – Foto Henk Widi

Sejumlah padi yang berada di dekat bantaran sungai, diakui Mulyadi, bahkan tertimbun karung berisi tanah penahan talud serta pasir dan batu dari Sungai Way Pisang. Kerugian petani yang tidak bisa memanen padi diperkirakan mencapai jutaan rupiah.

Musim panen padi yang dipercepat akibat banjir dan sebagian sudah memasuki masa panen, memberi berkah bagi pengojek gabah.

Hendra, salah satu penyedia jasa ojek gabah menyebut, banjir membuat pemilik lahan sawah mempercepat panen. Imbasnya, ia dan sejumlah penyedia jasa ojek angkut gabah mendapat pesanan berlimpah.

Sehari proses panen dengan mesin combine harvester ia bisa mengangkut sekitar 50 karung gabah dari beberapa pemilik sawah.

Pada kondisi normal, Hendra menyebut, per karung gabah ia mendapat upah Rp10.000. Saat kondisi sawah terendam banjir dan tingkat kesulitan mengangkut gabah tinggi, upah naik menjadi Rp15.000 atau sesuai kesepakatan.

Para pengojek gabah melintasi area persawahan dengan padi yang roboh akibat banjir luapan Sungai Way Pisang – Foto Henk Widi

Kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi dengan ban yang diberi rantai, disebut Hendra, harus bisa melintas di lahan berlumpur sembari membawa gabah. Masa panen ketiga disebut Hendra bertepatan dengan musim penghujan, membuat ia dan puluhan penyedia jasa ojek harus bekerja ekstra membawa gabah ke lokasi pengumpulan.

“Pemilik lahan sawah yang terkena banjir biasanya akan memberi upah lebih dengan pertimbangan tingkat kesulitan membawa gabah,” cetus Hendra.

Imbas hujan deras mengakibatkan luapan Sungai Way Pisang merusak areal persawahan di Kecamatan Penengahan, Palas, Sragi. Selain merusak areal persawahan, pantauan Cendana News, akses jalan penghubung Desa Sukamulya menuju Desa Pematang Baru, nyaris putus.

Pemerintah desa setempat sementara memberi tanda pada titik yang berlubang. Tanah bercampur batu sementara digunakan menimbun titik yang rusak untuk memperlancar transportasi.

Selain merusak akses jalan menuju Desa Pematang Baru, luapan Sungai Way Pisang mengakibatkan aspal jalan terkelupas. Jalan beraspal yang terkelupas tersebut, membuat sebagian warga harus ekstra berhati-hati saat melintas terutama pada malam hari.

Sejumlah karung berisi tanah yang digunakan untuk talud tanggul penangkis Sungai Way Pisang juga jebol. Belum ada upaya perbaikan oleh instansi terkait pada tanggul penangkis Sungai Way Pisang yang jebol dan merusak area persawahan tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...