Ratusan Nelayan di Lampung Khawatirkan Rusaknya Lingkungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ratusan nelayan tangkap dan nelayan budi daya di Desa Legundi, Desa Ruguk, Desa Ketapang dan sejumlah desa lain di pantai timur Lampung, mengkhawatirkan kerusakan lingkungan di wilayah tersebut.

Yanto, salah satu nelayan budi daya rumput laut, menyebut dampak angin kencang dan gelombang tinggi menyebabkan sejumlah titik di pantai Ketapang mengalami kerusakan. Pembudidaya rumput laut terdampak tercabutnya sejumlah tonggak pancang untuk pemasangan alur budi daya rumput laut.

Menurut Yanto, gelombang pasang di sebagian wilayah Ketapang juga menyebabkan tanggul penangkis yang sudah dibangun, rusak. Dan, membuat nelayan harus menambatkan perahu di lokasi yang aman untuk menghindari perahu tenggelam.

Yanto, salah satu pemilik usaha budi daya rumput laut di pantai Ketapang, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Kerusakan cukup parah akibat gelombang tinggi dan angin kencang, juga terjadi di pantai Legundi. Sejumlah pohon kelapa, cemara, waru laut, pandan laut, tumbang akibat besarnya gelombang.

Yanto juga mengatakan, jarak pantai dengan perkampungan warga yang semula lebih dari 50 meter, kini akibat abrasi angin, air laut selama belasan tahun, membuat jarak pantai dan perkampungan warga menjadi 10 meter.

Saat terjadi banjir rob air laut, lanjut Yanto, kerap masuk ke perkampungan warga sehingga genangan air laut bisa masuk ke akses jalan yang dilintasi warga.

“Kerusakan lingkungan, sebagian karena dahsyatnya angin dan gelombang, selain itu karena semakin berkurangnya pohon alami yang berfungsi sebagai penangkis membuat abrasi semakin parah. Kami berharap, pihak terkait bisa melakukan pembangunan tanggul di wilayah yang terdampak abrasi.,” kata Yanto, Rabu (19/12/2018).

Sejumlah pulau kecil penghalang alami, di antaranya pulau Seram, pulau Keramat, pulau Seruling, bahkan tidak lagi mampu menahan laju kerusakan pantai Ketapang.

Selain kerusakan pantai akibat gelombang dan angin, Yanto yang masih membudidayakan 100 jalur rumput laut juga mengkhawatirkan sampah yang terbawa arus.

Sampah yang terbawa arus ke wilayah tersebut sebagian besar merupakan sampah plastik, dan mengakibatkan kerusakan pada tanaman rumput laut.

Sampah kiriman yang tersangkut ke jalur berupa tali tambang, kata Yanto, sebagian terdampar di pantai dan mengakibatkan pantai menjadi kotor.

Sampah laut yang dibuang dominan berasal dari wilayah lain yang terbawa arus laut. Sebagian sampah yang tidak bisa terurai, bahkan mengakibatkan budi daya kerang hijau yang juga dilakukan oleh nelayan, terganggu.

Nelayan lain bernama Hasan, juga mengatakan, kerusakan akibat abrasi sudah diantisipasi oleh pemerintah daerah, dengan pembuatan tanggul.

Tanggul yang dibuat sebagian, bahkan sudah mengalami kerusakan. Sejumlah kerusakan tanggul penangkis dari cor beton tersebut sebagian disiasati dengan timbunan batu susulan.

Meski telah memiliki tanggul penangkis, sebagian wilayah di pantai Kecamatan Ketapang, masih terdampak abrasi oleh angin dan gelombang.

DR. Toga Mahaji, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung -Foto: Henk Widi

“Kami berharap, ada rehabilitasi untuk tanggul penangkis yang rusak, sebaliknya untuk lokasi yang tidak memiliki tanggul dibuat baru,” beber Hasan.

Hasan menyebut, nelayan di Ketapang menggantungkan hidupnya dari sektor perikanan dan budi daya. Upaya mempertahankan hasil tangkapan di wilayah tersebut dilakukan dengan menghindari penggunaan jaring pukat harimau (trawl) serta bom ikan.

Selain itu, sektor budi daya juga dijalankan warga dengan mengembangkan keramba ikan kerapu di Desa Sumur, budi daya rumput laut dan kerang hijau di desa Legundi.

Lingkungan yang terjaga, diakuinya menjadi faktor penentu keberlangsungan nelayan di wilayah tersebut.

Sebelumnya, pada Senin (16/12), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, DR. Toga Mahaji, menyebut kesejahteraan nelayan di wilayah Ketapang harus ditingkatkan.

Ia menyebut upaya membantu nelayan melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Bentuk bantuan bagi nelayan dengan memberikan alat tangkap ramah lingkungan, kapal tangkap diharapkan agar nelayan tidak merusak biota laut.

“Selama ini, penyumbang kerusakan laut tidak bisa dipungkiri karena nelayan memakai alat tangkap tidak ramah lingkungan, sehingga harus dialihkan,” beber Toga Mahaji.

Terkait kerusakan di pantai akibat kondisi alam, ia mengaku koordinasi lintas sektoral akan dilakukan. Perbaikan dan pembuatan talud akan dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Ia mengimbau, agar nelayan tidak membuang sampah sembarangan, sekaligus ikut menjaga lingkungan dengan menanam pohon penahan abrasi, seperti dilakukan di pantai Rajabasa dengan kombinasi antara talud penahan gelombang dan penanaman pohon penahan abrasi.

Menjadikan laut sebagai halaman yang harus dilestarikan, katanya, bisa menjadi kunci dalam mempertahankan lingkungan yang terjaga dan terhindar dari kerusakan.

Toga Mahaji juga menyebut, selain meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui diversifikasi usaha, kelestarian lingkungan laut juga dijaga.

Ia mengaku telah berkoordinasi dengan kepolisian, agar melakukan penindakan bagi nelayan pemakai bom ikan dan trawl untuk menangkap ikan.

Lihat juga...