Ritual Widin Tana, Mengantar Hewan Kurban Menuju Mahe

Editor: Koko Triarko

217

MAUMERE – Ada yang unik dalam perayaan ritual adat Gren Mahe di Mahe Kringa, Desa Kringa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Jumat (30/11). Semua warga hadir dan mengarak hewan kurban yang telah dirias, menuju tempat ritual adat atau mahe, yang berjarak sekitar 400 meter arah barat rumah Kepala Suku.

Hewan utama yang dijadikan persembahan atau kurban kepada wujud tertinggi (Amapu) dihiasi dengan kain tenun, dan didandani atau dirias sebaik mungkin. Kambing ini lalu diarak dengan dipimpin kepala suku, diikuti segenap anak suku dari empat suku di Mahe Kringa, yakni suku Kringa, Liwu, Lewar dan Aur.

“Ritual adat ini dinamakan Widin Tana, mengantar hewan kurban seekor kambing jantan yang dirias dengan selembar kain tenun dan memakai  daun kelapa yang dikalungkan di leher kambing,” sebut Laurensius Rogan Liwu, Kepala Suku etnis Tana Ai Mahe Kringa, Minggu (2/12/2018).

Rofinus Dolo (kiri), juru bicara masyarakat adat etnis Tana Ai Mahe Kringa. -Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan, Rensu, sapaannya, hewan kurban utama berupa seekor kambing jantan harus dirias seperti manusia, sebab akan dipersembahkan kepada wujud tertinggi, sehingga kurbannya harus indah.

“Kita harus mempersembahan hewan kurban yang terbaik dan harus didandani, sebagai bentuk penghormatan atau penghargaan kepada wujud tertinggi sang pencipta langit dan bumi. Dia yang diyakini sebagai pemberi kehidupan dan harus dihormati,” tuturnya.

Rofinus Dolo, tetua masyarakat Mahe Kringa yang juga dipercaya sebagai juru bicara, menjelaskan, hewan kurban utama ini diantar ke Mahe dan Lepo atau rumah besar tempat dilaksanakan ritual adat Gren Mahe. Hewan tersebut harus dihias dulu oleh tetua adat dan kepala suku.

“Setelah kepala suku memberi tanda ritual Widin Tana bisa dimulai, maka semua anak suku bersiap untuk mengikuti ritual. Pada barisan terdepan, terdapat kepala suku dan empat ketua adat suku masing-masing,” terangnya.

Selama perjalanan, kata Rofinus, diteriakkan kalimat Eka Pesa Pio Pare, sebagai penghormatan atau kebahagiaan kepada wujud tertinggi. Sambil meneriakkan kalimat ini, juga dilakukan gerakan hentakan kaki dan membuat gerakan  anggota tubuh yang melambangkan simbol penghormatan dan kebahagian.

“Para peserta pun bersemangat dan berteriak dengan lantang. Bahkan ada peserta perarakan yang mengacungkan parang ke atas kepala penuh semangat, sambil menghentakkan kaki ke tanah dengan keras,” terangnya.

Di belakang barisan kepala suku dan tetua adat, masing-masing suku membawa serta hewan kurban mereka, baik kambing maupun babi dengan mengikatnya di sebatang bambu. Hewan kurban tersebut pun dipanggul dua lelaki dari suku tersebut.

“Semua orang yang mempunyai ujud atau permohonan khusus saat ritual adat Gren Mahe, juga turut serta membawa hewan kurban atau hewan yang akan dijadikan persembahan ke Mahe,” ucapnya.

Ada juga yang membawa hewan untuk dipersembahkan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuksesan dan keberhasilan yang telah diperoleh selama tahun-tahun sebelumnya. Juga ada hewan kurban dari orang yang mempunyai kesalahan atau melanggar aturan adat.

“Besar kecilnya hewan kurban tergantung dari kesanggupan dan keiklasan dari masing-masing orang. Hewan tersebut nantinya disembelih dan dagingnya dibagikan kepada setiap anak suku dan tetamu yang hadir,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...