Romo Yos, Satu-satunya Pastor Berpangkat Letkol di Indonesia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

6.898

YOGYAKARTA — Sepintas sosok Pastor satu ini tak ubahnya seperti pemuka Gereja pada umumnya. Cerdas, bertutur kata halus, dan bijaksana. Namun siapa sangka, ternyata pastor satu ini merupakan seorang Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpangkat Letnan. Dialah Letnan Kolonel (Sus) Romo Yoseph Maria Marcelinus Bintoro.

Menjadi satu-satunya Pastor sekaligus anggota TNI, Romo Yos, panggilan akrabnya masuk dalam catatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai ‘Pastor Pertama yang Sekolah Perwira Prajurit Karir di Akmil’.

Romo Yos yang aktif di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta ini, kini aktif menjadi pemuka gereja katolik St. Mikael yang ada di kompleks TNI AU Lanud Adisucipto Yogyakarta.

Menjadi seorang Pastor Tentara, Romo Yos memiliki tugas utama sebagai pembina rohani umat Katolik di lingkungan TNI AU. Ia juga aktif sebagai pembicara dan dosen.

Meski begitu ia juga tak segan melakukan sejumlah tugas sebagai anggota TNI. Mulai dari memanggul senjata, dikirim ke sejumlah misi di daerah konflik, hingga ikut terbang diatas pesawat.

“Padahal awalnya dulu saya benci tentara, sekarang saya malah jadi tentara,” ujarnya.

Setelah ditahbiskan sebagai imam tahun 1996, Romo Yos ditugaskan oleh Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menjadi pastor di lingkungan TNI.

Ia pun kemudian mengikuti pendidikan Perwira Prajurit Karir di Akademi Militer Magelang dan dilantik pada tahun 1997 dengan pangkat Letnan Dua.

“Dulu saya berpikir tentara itu kerap dipakai negara untuk menginjak-injak rakyat. Tentara menjadi alat negara untuk melukai rakyat. Padahal, meski saya berasal dari keluarga birokrat, saya selalu melayani dan memperjuangkan kehidupan rakyat. Tapi saat jadi imam, saya justru ditugaskan di tempat tentara. Memang Tuhan sudah punya rencana,” katanya.

Kini setelah puluhan tahun menjadi Anggota TNI, Romo Yos memiliki pandangan baru bahwa sebenarnya menjadi tentara bukan hanya soal ‘to kill or to be kill. Lebih dari itu, misi utama seorang tentara justru adalah menjunjung tinggi misi kemanusiaan dan membawa perdamaian. Termasuk juga melakukan pendekatan lunak dan mememangkan hati rakyat.

“Menjadi imam itu hanya sebagai sarana. Tugas utama kita adalah menyampaikan pada semua orang bahwa kita harus berbuat baik. Tidak harus menjadi Katolik. Tapi bagaimana menjadi manusia yang baik,” ungkapnya.

Menjadi perwira rohani katolik, Romo Yos tak hanya mengurusi kehidupan rohani di lingkungan TNI AU. Ia juga berupaya membentuk mindset atau koridor baru dalam membangun karakter para calon perwira. Termasuk juga mampu menjadi teladan bagi anggota TNI lain di lingkungannya.

“Satu hal yang pasti, tentara nasional kita ternyata luar biasa dan berbeda dengan tentara di negara lain. TNI itu dibentuk dari rakyat. Jati diri TNI adalah rakyat. Disitu ada guru, ada dokter, ada petani. Menjadi TNI adalah panggilan anak zaman. Bagi TNI perang dan mengangkat senjata adalah pilihan terakhir,” kata Romo Yos yang hoby bersepeda, literasi dan bermusik ini.

Baca Juga
Lihat juga...