Rumah Lurah Soedargo Pernah Jadi Markas Letkol Soeharto

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Dijadikannya Desa Segoroyoso, Kecamatan Plered, Bantul, sebagai markas komando para pejuang kemerdekaan pimpinan Letkol Soeharto, dalam melakukan perang gerilya melawan penjajah Belanda, tak bisa dilepaskan dari sosok warga setempat bernama Soedargo Utomo. 

Soedargo Utomo merupakan Kepala Desa atau Lurah Desa Segoroyoso, pada saat terjadi Perang Kemerdekaan II atau Agresi Militer Belanda ke II pada 1949.

Cucu Lurah Soedargo, Eva Mawati -Foto: Jarmika H Kusmargana

Di rumah Lurah Soedargo, Komandan Wehrkreise III Letkol Soeharto bersama pasukannya bersembunyi dari kejaran tentara Belanda, sekaligus menyusun taktik dan strategi perang untuk melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949, dalam upaya merebut Ibu Kota Yogyakarta dari pendudukan penjajah Belanda.

Hingga saat ini, rumah Lurah Soedargo nampak masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Kompleks rumah yang menjadi tempat pengungsian dan pertahanan para pejuang ini terletak tepat di samping Monumen Segoroyoso, Dusun Segoroyoso I, Desa Segoroyoso,Plered, Bantul.

Sebagaimana rumah pemuka desa masyarakat Jawa pada zaman dahulu, kompleks rumah Lurah Soedargo berdiri di lahan yang cukup luas. Bangunan utama komplek ini adalah sebuah bangunan rumah adat Jawa berbentuk Limasan. Di depannya sebuah pendopo berbentuk Joglo berdiri megah menghadap ke selatan.

“Bangunan rumah dan Joglo itu masih asli seperti saat dulu digunakan sebagai markas Soeharto dan pasukan pejuang kemerdekaan. Hanya, memang dulu lebih luas lagi dan lebih tertutup. Karena di samping kanan kiri bangunan rumah utama masih ada bangunan lagi yang biasa disebut gandok kanan dan kiri. Pepohonan juga masih tumbuh rimbun di pekarangan sekeliling rumah,” ujar Cucu Lurah Soedargo, Eva Mawati.

Setelah Lurah Soedargo, wafat, rumah tersebut kemudian ditinggali oleh ahli waris atau salah seorang anaknya, bernama Tris Harjono. Sementara saat ini rumah tersebut ditinggali oleh salah seorang anak Tris Harjono, yakni Brigjen Pol Bimo Anggoro Seno, yang tak lain adalah Wakapolda DIY, sekaligus kakak kandung Eva Mawati.

Dipilihnya rumah Lurah Soedargo sebagai markas pasukan Wehrkreise III pimpinan Letkol Soeharto, diyakini karena rumah itulah yang pada saat itu dianggap paling luas di antara rumah lainnya di Desa Segoroyoso. Sehingga rumah tersebut mampu untuk menampung ratusan pejuang maupun menyimpan logistik keperluan perang gerilya.

Lurah Desa Segoroyoso, Plered, Bantul, Miyadiana -Foto: Jatmika H Kusmargana

“Berdasarkan cerita Simbah, memang dulu di rumah itu jadi semacam pos persembunyian. Jadi, semua kegiatan pejuang ada di situ” ujarnya.

Cerita Eva itu dibenarkan Lurah Segoroyoso yang menjabat saat ini, Miyadiana. Desa Segoroyoso dengan pusatnya, yakni rumah Lurah Soedargo, saat itu dikatakan menjadi semacam tempat pengungsian dan pertahanan para pejuang melawan Belanda.

Di sinilah dibuat pos pertahanan, pos palang merah atau rumah sakit darurat, dapur umum, hingga gudang senjata beserta administrasi keperluan lainnya.

“Hal itulah yang menjadikan Desa Segoroyoso memiliki peranan penting dalam membantu mempertahankan kemerdekaan. Karena seluruh warga masyarakat Desa Segoroyoso, termasuk Lurah Soedargo, saat itu bersama-sama bergotong-royong membantu para pejuang menghadapi penjajah Belanda,” katanya.

Tidak sekadar menyediakan tempat, membantu makanan, tambahnya, namun juga banyak warga desa yang ikut berperang.

Tak heran, atas jasa-jasa warga Desa Segoroyoso, itu kemudian dibangun Monumen Segoroyoso. Monumen ini dibangun di bekas lahan pekarangan milik Lurah Soedargo yang berada tepat di samping depan rumahnya.

Lihat juga...